15 May 2015

Semalam di Cirebon

Mumpung lewat Cirebon, ada waktu satu malam untuk beristirahat dan menikmati suasana kota Cirebon, setelah ada acara di Purwokerto. Kebetulan jalur yang kami lewati adalah dari Purwokerto menuju jalur pantura via Tegal – Brebes – Cirebon.

Tapi masalahnya adalah dimana menginap dan kemana kalau mau mencoba makanan khas, sambil beristirahat. Sementara rombongan kami tidak pernah ada yang pengalaman jalan-jalan ke kota Cirebon, info pun minim. Saya sendiri pernah ke Cirebon lebih dari 10 tahun lalu. Tentu saja saya sudah lupa dan Cirebon pasti sudah jauh berubah dari sejak saya ke sana.

Sekarang yang jadi andalan hanyalah informasi dari internet lewat google. Sambil melakukan perjalanan Tegal – Cirebon kami mencari informasi hotel, tempat makan, dan tempat lain yang menarik dikunjungi.

Tempat menginap

Setelah kontak ke beberapa hotel akhirnya kami memilih hotel yang lumayan bersih di daerah Jl. Siliwangi. Kami sengaja memilih daerah ini karena banyak sekali hotel dari berbagai kelas yang berlokasi di sini. Lokasinya di tengah kota sehingga strategis kalau akan berkeliling kota. Kami menginap hotel Aurora Baru, berseberangan dengan Amaris dan Metland hotel. Ternyata tidak terlalu sulit untuk mendapatkan kamar, padahal telponnya sudah sore, di malam minggu yang biasanya agak susah untuk mendapatkan kamar kosong.

Sekitar jam 7 malam kami sampai hotel. Kamarnya lumayan luas dan cukup bersih, walau ada sedikit kekurangan di kamar mandinya. Ada kran yang bocor dan kloset duduknya bergerak saat diduduki. Itu kami ketahui pas sudah malam jadi kami terima aja tanpa komplen petugas hotelnya.
Kami cek-in dan membersihkan badan sebentar sebelum berangkat mencari makan malam.

Makan malam

Rencananya ingin makan nasi jamblang khas Cirebon. Disebut nasi jamblang, karena nasinya dibungkus dengan daun jamblang (daun jati). Kami berkunjung ke Nasi Jamblang Mang Dul, jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 4 atau berseberangan dengan Mal Grage Cirebon. Ternyata dari hotel tidak sampai 10 menit perjalanan menggunakan mobil untuk sampai ke tempat ini.

nasi jamblang mang dul, cirebon
Nasi jamblang habis tersantap

Saat kesana lumayan ramai, mungkin karena malam minggu dan nasi jamblang Mang Dul ini lumayan terkenal, makanya jadi penasaran untuk mencoba.

Saya memesan nasi 2 bungkus, jangan kaget, 1 bungkusnya ini lumayan kecil, seperti sego kucing, makanya saya perlu 2. Lauknya telur dadar, ikan asin jambal, tempe goreng dan tentu saja sambel nasi jamblang yang khas, walau tidak terlalu pedas. Atau kalau suka bisa dicoba juga semur jengkol dan tahu.

Kami lahap makannya, mungkin karena lapar akibat perjalanan yang lumayan. Tapi bukan hanya kami, di meja lain di sekitar kami juga tampak pada lahap makannya. Seakan-akan seperti lomba menyantap makanan saja.

Di sela-sela semangat nya kami makan, ada sedikit 'kehebohan' yang dilakukan oleh salah satu pelayan di tempat makan ini, sepertinya pelayan yang sudah senior. Ia dengan suara agak keras seperti mengucapkan pengumuman, “Ayo kumpul-kumpul... ayo nambah.. jangan ragu-ragu.. jangan pikir-pikir...” Begitu kira-kira teriakannya yang membikin kami sedikit terkaget dan tersenyum saat memperhatikannya. Rupanya ini cara khas di warung ini untuk menarik perhatian para pengunjungnya. Saya tidak tahu apa selalu ada teriakan seperti ini atau pas kebetulan saat kami berkunjung saja.

Harganya pun tergolong murah untuk ukuran tempat makan yang lumayan terkenal, ramai pengunjung dan rasa yang enak. Yang saya makan tadi termasuk minum cuma habis sekitar Rp 15 ribuan.

Kalau tidak suka nasi jamblang, di sederetan ini ada beberapa tempat makan yang juga ramai pengunjung. Ada nasi lengko dan ada juga empal gentong. Atau barangkali ingin mencoba ketiganya? Saya sendiri saat belum makan, seperti lapar mata ingin makan ini-itu. Tapi setelah menghabiskan sepiring makanan yang saya pesan, perut terasa kenyang dan sudah tidak tertarik untuk mencoba makanan lain. Hanya senang melihat-lihat saja.

Setelah makan nasi jamblang, sebenarnya kami ingin berkeliling menikmati suasana kota Cirebon di malam minggu dengan catatan kalau tidak terlalu capai dan ngantuk. Tapi apa daya, setelah perut terisi dan kena udara segara di malam hari, ternyata membuat kantuk jadi terasa. Akhirnya kami mengarahkan mobil ke arah hotel di jl. Siliwangi.

Tempat makan kaki lima yang ramai pengunjung

Tapi dalam perjalanan menuju hotel ada tempat makan kaki lima yang kelihatan tampak ramai yang ada di pinggir jl. Dr. Wahidin. Kami penasaran makanan apa yang sampai ramai dikunjungi orang itu. Setelah mendekat ternyata tempat ini menjual makanan dengan nama Mi Get. Saya tidak tahu apa artinya, tapi yang jelas ini adalah mi instan yang dimasak secara khusus. Bumbu yang ada di bungkusnya tidak dipakai semuanya, terus ditambahi dengan kecap dan saos cabe dan bumbu lain sehingga rasanya jauh berbeda dengan mi intan aslinya. Yang pasti tentu rasa pedasnya karena banyaknya irisan cabe rawit yang disertakan saat masak.

mie get cirebon
Kerumunan kru mie get. Kerumunan pengunjungnya ada di ujung sananya lagi

Kami pun penasaran untuk mencobanya, walau kami memesan 1 porsi untuk 2 orang karena kami baru saja makan nasi jamblang. Menu yang favorit adalah mi goreng super pedas. Atau kalau tidak suka mi goreng bisa memilih mi rebus. Tentu yang dimasak secara khas.

Setelah mencoba mi get, kami benar-benar pulang ke hotel, karena sudah kenyang dan ingin istirahat agar besok pagi segar bangun tidurnya.

Cari sarapan dan oleh-oleh

Sekitar jam 8 pagi kami bersiap-siap untuk chek cout. Rencana mau cari sarapan yang khas, cari oleh-oleh dan cari tempat wisata sambil melanjutkan perjalanan pulang ke jakarta. Untuk tempat sarapan sebenarnya kami tidak memiliki tujuan yg pasti. Hanya jalan saja dan nanti kalau ada tempat yang menarik baru kita berhenti.

Waktu itu melintasi jalan di sudut kota, ada tempat yang pagi itu sudah ramai orang makan. Sementara di kiri kanannya toko-toko masih belum buka. Nama warungnya Nasi Lengko H. Barno, jl. Pagongan no. 15B.

nasi lengko h. barno cirebon
Beberapa mobil pengunjung nasi lengko h. barno

nasi lengko dan sate kambing
Nasi lengko, sate kambing dan kerupuk.. nyamm

Kami memesan nasi lengko dengan tambahan sate kambing. Tidak seperti nasi jamblang yang porsi nasinya kecil, nasi lengko ini porsinya lumayan besar. Buat saya 1 porsi bisa untuk 2 orang untuk porsi sarapan pagi. Akibatnya kami tidak bisa menghabiskan porsi makanannya. Nasi lengko terdiri dari nasi, irisan tahu dan tempe, timun, daun kucai, toge yang diatasnya dilumuri dengan bumbu kacang dan kecap.

Setelah makan nasi lengko, kami mencari oleh-oleh. Kebetulan saat menuju nasi lengko H. Barno, kami melewati ujung Jl. Siliwangi yang banyak sekali toko oleh-oleh yang berderet di sini. Tepatnya di sekitaran depan Pusat Grosir Cirebon (PGC). Agar leluasa, saya memarkirkan mobil di parkiran PGC dan berburu oleh-oleh di sederetan toko-toko itu.

Bermacam-macam oleh-oleh khas Cirebon bisa diperoleh di kawasan ini. Mulai terasi, ikan asin, kerupuk dan lain-lain.

Kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta sambil mencari tempat wisata yang searah dengan perjalanan pulang. Tapi sayangnya tempat yang tuju tidak ketemu saat dicari. Akhirnya kita langsung bablas masuk tol ke luar kota Cirebon dan pulang menuju Jakarta.

Sepertinya perlu waktu lebih lama untuk menjelajah dan menikmati kota Cirebon.
Read More »

16 April 2015

Mengendalikan Penggunaan Data di Ponsel Android

Anda berlangganan paket data di ponsel android anda. Lalu suatu ketika anda kaget kuota data anda tiba-tba habis. Padahal masa berlakunya masih lama. Parahnya lagi tanpa disadari pemakaian datanya memakan pulsa utama. Tentu anda akan merasa kesal.

Saya pernah mengalami hal ini. Dan kalau anda pernah mengalami juga, anda perlu memonitor pemakaian paket data anda. Anda perlu tahu berapa pemakaian data per hari, minggu, bulan. Hingga akhirnya kita tahu berapa rata-rata pemakaian per bulan. Berdasarkan ini kita bisa memutuskan untuk meng-upgrade langganan paket data, atau membatasi pemakaianya. Yang penting kita tahu penggunaan data internet kita.

Untuk melakukannya tentu tidak dengan cara manual. Ada banyak aplikasi yang bisa kita unduh, baik yang gratisan atau yang berbayar. Anda tinggal masuk ke Google Play Store dan cari aplikasi dengan mengetikan kata kunci "data counter". Nanti akan muncul banyak aplikasi untuk memonitor data. Silakan dicoba dan sesuaikan dengan selera.

Data counter widget
Data counter widget

Atau kalau anda ingin aplikasi yang simple dan ringan, bisa mencoba aplikasi yang saat ini terpasang di ponsel android saya. Namanya Data Counter Widget yang dibuat oleh Roy Solberg. Saya memakai ini karena ukuran filenya yang kecil, sekitar 640 kb, sehingga tidak membebani android saya yang kelas low end. Tapi report penggunaan data yang dihasilkan sudah sesuai dengan yang saya inginkan. Hasil statistik datanya bisa kita lihat per harian, mingguan, atau bulanan. Hasilnya juga bisa memisahkan pemakaian untuk cell (dari ponsel) dan dari wifi.

Report Data counter widget
Contoh report Data counter widget

Anda bisa juga menggunakan aplikasi lain yang sejenis sesuai selera. Yang paling penting adalah data yang dihasilkan oleh aplikasi ini bisa kita gunakan untuk memonitor dan mengendalikan penggunaan paket data anda. Agar anda tidak kaget saat tiba-tiba paket data anda habis.

Tentu saja aplikasi ini hanya berguna untuk yang berlangganan paket data berdasarkan kuota. Untuk yang berlangganan unlimited sih tidak terlalu perlu. Kecuali hanya untuk memonitor pemakaian saja.

Satu lagi, aplikasi ini tidak berguna buat yang paket datanya, ditanggung oleh pasangannya atau perusahaan. Kalau ada pemakaian lebih, tinggal minta lagi.
Read More »

23 March 2015

#EF11 – The Funny Moment with My Tshirt

I am not a fashionable person. I just a kind of person who prefer the simple and casual thing in fashion. Except in formal situation, I usually follow the rules. For example in the workplace, in a wedding party or other formal moment, beside using formal shirt or uniform, I usually put on batik as my favorite choice. And in daily non formal activities I just comfort with a jeans and t-shirt. And I also just have one rule, the size must be fit to my body, not to tight or to loose-fitting.

Because of that, I don't have special things to tell or about OOTD (outfit of the day). But, I still want to share about my funny thing when I wear my t-shirt with the provoking sentence. You can see that in these picture.

When I go to a mall, in a food corner where I just want to enjoy a cup of coffee and the live music, someone starred at me with a serious face. But after see exactly my t-shirt, he smile at me. I ask him politely, why he starred me like that. He told me that he think I really hate jazz music, so I express it in my t-shirt print. But when he read for the second time he realized that its just a joke.



It's not the first incident, several times the similar incident like this happen when I wear my black t-shirt and with the same ending. They just smile at me.

Actually I like wear this t-shirt not only because of the unique print on the shirt, but also the size is fit in my body. So it's look good and I feel comfort. This t-shirt I bought when I was go to Jazz Goes to Campus event in UI Depok several years ago. For me, it's unique and not common like the t-shirt that produced by Dagadu (Jogja), Krisna and Joger (Bali).

I also have one more interesting moment as above but it's with my other t-shirt. When I go to part shop to upgrade my laptop RAM, I got a good used RAM and good price just because i wear t-shirt that printed Ubuntu in it. When I ask why he gave good service, he told me that as an Ubuntu user (as printed in t-shirt I wear), I know the the quality of parts and the range of the price, so he give me the good price with no more offering. But actually I'm not like that, i just a casual user of Ubuntu, not a geek.


Maybe not only me, I think you have interesting experience like me, either. The funny experience just because of OOTD we wear. What do you think?

This is the submisson of the english challenge #EF11 – Outfit Of The Day
Read More »

18 March 2015

Berburu Buku Menarik di Gudang Buku

Menemukan buku yang kita suka dengan harga yang murah adalah hal menyenangkan. Itu yang saya alami saat mampir ke toko Gudang Buku di Mal Bekasi Square. Walau namanya gudang buku tapi tampak rapi seperti toko pada umumnya. Bahkan dilengkapi dengan bangku untuk membaca-baca sebelum membeli.

Bukan hanya harga yang murah, kalau beruntung kita bisa mendapatkan buku yang kita suka yang sudah tidak beredar di toko buku besar, yang masih dalam kondisi bagus. Bahkan ada yang masih tersegel plastik. Dan yang unik, jika kita sudah menemukan buku yang kita suka dan saat itu kita tidak membelinya, saat kembali lagi buku itu sudah dibeli orang lain. Ini membuat jadi ingin mampir lagi, siapa tahu mendapatkan buku yang kita suka dan bisa langsung membelinya.

(gambar: sebagian hasil perburuan)

Saat pertama mampir saya mendapatka buku Si Muka Jelek. Catatan Seorang Copywriter 2 (2010) yg ditulis oleh Budiman Hakim, seorang copywriter senior dan pemilik biro iklan besar. Dan buku Khotbah di atas Bukit (2008) yang ditulis oleh Kuntowijoyo, seorang sastrawan yang mendapatkan banyak penghargaan di bidang sastra. Dua buku itu hanya saya tebus di bawah Rp 50 ribu. Padahal kondisi buku masih seperti baru dan bahkan yg satu lagi msh tersegel plastik.

Datang berikutnya saya mendapatkan 2 buku yang menarik. Buku Life Story not Job Title (2012) yang ditulis Darwin Silalahi, Predir PT Shell Indonesia. Satunya lagi buku terjemahan The Celestine Propechy (1997) tulisan James Redfield. Keduanya cukup dibayar Rp 50.000.

Ada beberapa buku lain dan majalah yang saya beli pada saat mampir lagi. Tapi yang paling menarik adalah saat mendapatkan buku yang lumayan tebal. Yaitu terjemahan novel best seller dunia The Name of The Rose (2004) karya Umberto Eco, dengan tebal 730 halaman. Dan buku Aimuna dan Sobori (sebuah novel tentang pemusnahan pohon cengkeh), terbitan 2013 karya Hanna Ranbe yang tebalnya 480 halaman. Seperti biasa kedua buku itu saya bayar Rp 60.000.

Begitulah kalau mampir ke Gudang Buku, terus ada buku yg menarik saya selalu membelinya. Biar nanti tidak dibeli oleh orang lain kalau saya tunda. Seperti pernah kejadian saat ada buku bagus tapi belum dibeli, saat datang kembali mau beli ternyata sudah diambil oleh orang lain.

Tidak jarang, istri berkomentar kalau saya selalu beli buku saat mampir ke sini. Untuk menyiasatinya saya biasanya hanya membeli maksimal 3 buku kalau ada yang menarik. Itu pun dipilih yang paling menarik yang mau dibeli. Akibatnya ada beberapa buku yang saya pending belinya. Semoga saat saya mau ambil belum dibeli orang. Buku-buku tadi adalah buku biografi Soebronto Laras (pendiri Indomobil) dan biografi Soekarjo (salah satu pendiri Jaya Ancol).

Suatu ketika saat membayar buku yang saya beli di kasir, saya bertanya dengan seorang pria berkacamata dan berjanggut tentang kapan biasanya stok buku datang ke toko ini. "Tidak mesti pak. Kalau lagi banyak ya tiap hari ada buku datang. Atau kalau lagi jarang ya seminggu paling 3 kali" jawab si bapak. Sepertinya si bapak ini pengelola atau pemiliknya. Saya belum konfirmasi langsung.

Maksud saya bertanya begitu adalah untuk menyesuaikan waktu kalau mau kesana. Biar saat datang ke sana, pas tidak lama stok buku-buku itu datang. Jadi bisa tahu lebih dulu kalau ada buku yang menarik di beli.

Tambahan info, Gudang Buku terletak di Mal Bekasi Square, Bekasi Barat di lantai bawah bersebelahan dengan Breadtalk. Jadi tidak sulit untuk menemukan buku ini kalau kita masuk dari pintu utama. Selain di Bekasi, Gudang Buku juga ada di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta. Tapi yang di Kuningan ini tokonya lebih kecil ketimbang yang di Bekasi. Walau pun dulu, seingat saya sekitar 10 tahun lalu, Gudang Buku yang di Pasar Festival ini kiosnya besar dan terletak di depan yang bisa kita lihat dari Jl. HR Rasuna Said.

Mau mampir ke sini? Siapa tahu ada buku yang disuka yang sudah tidak ada di pasaran masih bisa ketemu di sini.
Read More »

23 February 2015

EF#7 – The Tale of Sop Janda

Sop Janda from Bekasi (click for bigger picture)
Janda in English mean a widow. And “sop janda” can be translated to 'a widow soup' or 'soup of a widow'. Strange name right? Yea, at least for me.

I dont know why the soup that consist of meat and several bone named “sop janda”. Some said that its because in the old time, there was a widow who open stall that serve soup. The taste is good, and so many customer told to the others about the stall, and then the stall became famous. Other said that, the soup that served in hot condition, is like hugh a widows. Sound naughty, right? And the last one, 'sop Janda' is abbreviation of 'sop Jawa Sunda'. Again, I dont know which one is right, but the name is so catchy for me.

First time I know about “sop janda” is when I work in MM2100 Industrial Area, Cibitung, Bekasi, several years ago. In one corner of these area there a stall that served “sop janda” and always crowded with its customer, especially when in a lunch time. And now, because of the famous name of “sop janda”, so many stall that served meat soup and call it “sop janda”. So, “sop janda” became a generic name for meat soup. Moreover, “sop janda” is claimed as meat soup originally from Bekasi.

And if you curious about that, you don't need to go to MM2100 Industrial Area. You just visit Bekasi and go to Pekayon and Rawapanjang area. From toll gate Bekasi Barat turn to the right. And you can see the stall in the main street of these area.

As you can see on the picture above, I take picture of the stall that located in Rawapanjang area. Not far from my house.

Note: this posting is my first submission to the English Friday challenge of Blog English Club
Read More »

17 February 2015

Instalasi Ulang Android Lenovo A390

Gara gara iseng dan ceroboh, ponsel android ku, Lenovo A390 tidak bisa digunakan. Saat dinyalakan hanya mentok di tulisan dan logo Lenovo, ponsel tidak muncul menunya.

Penyebabnya adalah karena iseng melakukan update aplikasi, dan ceroboh me-remove aplikasi yang bermasalah setelah diupdate. Aplikasi Apex Launcher tersedia update baru di playstore, dan seperti biasa saya melakukan update karena ada fitur baru dari update tersebut. Tapi setelah diupdate ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Aplikasi tiba-tiba berhenti dan sering memunculkan jendela konfirmasi. Tentu ini jadi mengganggu.

Saya mencoba mencari cara mengatasinya. Dan dicoba beberapa kali restart hasilnya tetap sama. Yaitu muncul pemberitahuan kalau ada error pada launcher dan otomatis muncul kotak dialog. Akhirnya terpikir untuk diremove saja. Tindakan ceroboh itu yang membuat ponsel benar-benar tidak bisa digunakan. Saat direstart terhenti pada logo Lenovo saja.

Padahal tadinya saya mengira dengan me-remove Apex Launcher, maka yang jadi pengganti adalah Lenovo Launcher yang merupakan launcher bawaan dari ponsel. Tapi ternyata Lenovo Launcher nya sudah saya remove saat baru menginstall Apex Launcher, dan saya lupa.

Karena panik dan tidak menemukan solusi, maka jalan terakhir (menurut saya) adalah mending diinstall ulang saja. Atau di flash ulang ROM nya kembali ke Stock ROM. Tentu saja ini dengan resiko kehilangan beberapa data. Untungnya ada beberapa yang sempat di backup, jadi tidak terlalu banyak data yg hilang.

Cara melakukan instalasi ulang pun sebenarnya tidak terlalu susah untuk diikuti. Karena tidak terlalu ribet. Tinggal mengikuti beberapa step saja dengan runut.

Ini peralatan yang saya butuhkan:
  1. Laptop yang terinstall Windows 7
  2. Ponsel Lenovo A390 dan kabel data USB
  3. Software yang dipakai: driver untuk lenovo a390, SP Flashtool, stock ROM Lenovo A390. Setelah di download, extract masing-masing file itu ke salah satu folder di laptop. Khusus untuk stock ROM, hapus file "checksum.ini" setelah di-extract.

Langkah flashing
  1. Install driver. Pastikan ponsel Lenovo A390 saat kabel data USB dicolok ke laptop dikenali setelah proses instalasi driver selesai. Setelah itu lepas ponsel dari kabel USB.
  2. Jalankan SP Flashtool (flash_tool.exe), lalu klik tombol Scatter-Loading dan pilih file scatter yang ada di folder stock ROM yang tadi diextract.
  3. Lalu klik tombol Download, lalu colokkan ponsel yang sudah dilepas baterai nya ke kabel USB. Dan tunggu proses flashing selesai, yang ditandai dengan munculnya kotak dengan lingkaran hijau.
  4. Nyalakan ponsel lagi, dan nikmati ponsel seperti dalam kondisi baru software nya.

Dengan selesainya flashing ROM Lenovo A390 ini, berarti saya sudah pernah flash ulang android di beberapa ponsel. Yaitu Lenovo A390, Sony X10 Minipro dan Samsung Galaxy 5.
Read More »

04 February 2015

Pohon Sosis yang Menggemaskan

Pohon sosis, ini saat musim kemarau, pohonnya tidak rindang dan buahnya kurus
Saat mencari tempat shalat di salah satu sudut di Dufan, saya melewati pohon yang menggemaskan. Dari jauh sudah terlihat buah-buahnya yang lonjong berwarna coklat dan bergelantungan seperti diikat tali. Sementara pohonnya sendiri rindang dan meneduhkan.

Semakin mendekat melihatnya saya semakin gemas dengan buahnya. Kelihatannya segar dan enak dimakan, apalagi bergelantungan dan tidak terlalu tinggi sehingga bisa dipegang. Ini membuat orang yang melewati daerah situ tertarik untuk melihat, memegang dan bahkan ada yang menuliskan coretan di buahnya. Yang terakhir ini tidak perlu dicontoh, karena akan merusak buah dan merusak keindahannya.

Bunganya pun bagus dengan warna merah tua. Apalagi kalau saat mekar di tengahnya ada semacam putik yang menjulur ke luar.

Saya penasaran dengan pohon dan buah ini jadi sengaja berlama-lama berteduh sambil memperhatikan. Ternyata di bawah pohonnya ada papan dengan tulisan yang sudah agak memudar “kigelia pinnata atau pohon sosis”. Itu lah nama pohon dan buahnya yang yang bikin gemes itu.
Papan nya sudah lusuh, letaknya di bawah, jadi kalau tidak memperhatikan tidak terlihat tulisan ini

Saya baru pertama kali lihat pohon ini di Dufan, dimana lokasinya yang satu di dekat wahana Turangga-rangga dan di dekat pintu masuk depan kantor untuk pembuatan annual pass. Di tempat lain di Jakarta walaupun sudah belasan tahun tinggal dan keliling Jakarta, belum pernah melihat pohon ini. Makanya saat pertama lihat saya cukup lama memperhatikan pohon ini.

Tadi iseng browsing di google, ternyata banyak blogger yang menuliskannya dan rata-rata kesannya adalah bikin gemes dan menarik perhatian orang. Di antara blogger itu ada yang menceritakan saat melihat di Tahura Ir. Djuanda Bandung, ada yang di halaman kampus Unej Jember dan juga di kebun raya Bogor.

Menurut Wikipedia, pohon sosis ini namanya Kigelia Africana. Pohon ini asalnya tumbuh di daratan tropis Afrika yang membentang dari Chad hingga Afrika Selatan. Kigelia berasal dari bahasa setempat (Mozambik) yang artinya sejenis makanan sosis. Makanya di sini disebut sebagai pohon sosis karena bentuknya seperti sosis raksasa.

Sementara pohonnya tinggi bisa mencapai lebih 20 meter dan berdaun lebat jika turun hujan sepanjang tahun dan akan sedikit gugur kalau tiba musim kemarau.

Buahnya berukuran panjang antara 30-100 cm dengan diameter sekitar 18 cm. Buahnya berwarna hijau kalau masih muda dan warna kecoklatan kalau sudah tua. Buahnya kalau dibelah terdiri dari serat dan ada beberapa biji di dalamnya. Buah ini tidak bisa dimakan oleh manusia, konon beracun. Tapi biji-bijinya nya sering dimakan oleh binatang seperti babun, gajah, jerapah, monyet dan mamalia lainnya.

Di samping itu menurut kepercayaan orang Afrika buahnya adalah bisa digunakan sebagai obat-obatan untuk rematik, digigit ular atau obat kesurupan. Bisa juga digunakan untuk perawatan kulit. Nah ini untuk perempuan, silakan dicoba.

Pohon dan buah sosis ini banyak ditanam sebagai tanaman hiasan karena bunganya yang bagus dan juga buahnya yang unik. Tapi kalau ingin menanamnya harus disesuaikan tempatnya agar buahnya tidak membahayakan orang yang ada di sekitar kalau buahnya jatuh. Bisa bikin terluka atau bisa penyok kalau mengenai mobil.

Disamping di daerah tropis Afrika tanaman ini juga bisa ditemui di beberapa wilayah di India, Australia. Kalau di Indonesia sendiri, berdasar blog yang saya baca baru ada di Dufan Jakarta, Kebon Raya Bogor, Taman Hutan Rakyat Ir. Djuanda Bandung dan di halaman Unej Jember. Mungkin bisa ditambahkan kalau ada yang lain yg tahu dimana ada pohon sosis ini.

Saya masih penasaran siapa yang pertama kali membawa pohon ini ke Indonesia, termasuk juga siapa yang ada ide menanam pohon ini di Dufan.
Read More »

02 February 2015

Mari Mencoba Ubuntu

Mencoba hal baru buat sebagian orang mungkin akan terasa menyulitkan. Tetapi kalau mau menyempatkan sedikit waktu untuk mempelajarinya ternyata tidak sesulit yg dibayangkan.

Itu jg hal yang saya rasakan saat pertama kali mencoba Ubuntu. Kalau dibaca di majalah, pembahasan di milis-milis, terkesan kalau Ubuntu itu sulit untuk dipelajari, sulit untuk dipakai. Atau bahkan Ubuntu itu hanya untuk orang yang jago komputer, geek. Tapi setelah dicoba menjalankannya ternyata tidak sulit, bahkan mengasyikkan.

Malahan saat awal mencobanya, ternyata tidak harus dengan menginstall di komputer kita. Tapi cukup hanya dengan menjalankannya lewat CD drive, atau biasa disebut dengan live CD. Dengan begitu, kita tinggal nyalakan komputer, set agar bisa booting lewat CD drive, tunggu sampai muncul menu utama Ubuntu dan siap untuk dicoba-coba.

Tampilan desktop Ubuntu

Dengan live CD kita bisa mencoba dan mengetahui gambaran awal bagaimana Ubuntu digunakan. Kita bisa mencoba aplikasi standar bawaan Ubuntu, seperti Libreoffice yang merupakan paket aplikasi office lengkap yang tidak kalah dengan MS Office. Atau mengotak-atik setting agar sesuai dengan keinginan kita, misalnya mengubah wallpaper desktop.

Tentu saja mencoba dengan live CD ini ada kekurangannya. Misalnya komputer akan terasa lambat karena program dijalankan dari CD. Belum lagi kalau ada masalah dengan kepingan CD nya, atau speed drive nya yang lambat. Karena umumnya live CD dimaksudkan untuk sekedar mencoba menjalankan Ubuntu saja.

Untuk merasakan yang sebenarnya ya harus dengan cara menginstallnya di komputer atau laptop kita. Ada dua jenis menginstall, yaitu hanya Ubuntu yang diinstall di komputer kita dan dengan dual boot dimana Ubuntu di install berbarengan dengan Windows di satu komputer.

Kalau saya memilih cara dual boot, yaitu Ubuntu saya install bersamaan dengan Windows 7. Ini karena masih ada beberapa kegiatan yang masih lebih mudah jika dilakukan dengan Windows. Misalnya saat ingin mengotak-atik ponsel android saya tools nya hanya tersedia dalam platform Windows. Atau juga terkadang komputer saya dipakai oleh orang lain yang hanya terbiasa memakai Windows.

Disamping itu, dengan dual boot juga bisa memaksa diri saya untuk menggunakan Ubuntu untuk kegiatan sehari-hari. Dan jika dalam kegiatan itu tidak bisa dilakukan dengan Ubuntu, maka tetap bisa menggunakan Windows. Atau juga kalau ada pekerjaan yang mensyaratkan menggunakan Windows dan aplikasi nya, saya tidak kerepotan.

Menjalankan libreoffice

Sampai dengan saat ini, saya melakukan kegiatan sehari-hari sudah cukup dengan menggunakan Ubuntu dan aplikasinya. Misalnya untuk mengetik dokumen, mengolah angka dengan spreadsheet dan membuat presentasi sudah bisa terpenuhi dengan aplikasi Libreoffice.

Untuk keperluan internetan, saya biasa browsing dengan menggunakan browser Chromium atau Firefox, mengelola email POP dengan Thunderbird, membaca sindikasi rss dengan Liferea.

Saya juga sering mengedit foto, cropping, resize dll yang bisa dilakukan dengan Gimp. Memotong lagu bisa dengan Audacity dan juga mengedit video serta membuat photo slide show dengan aplikasi Openshot atau Kdenlive.

Untuk memainkan multimedia pun gampang. Ada VLC yang bisa memainkan berbagai format video dan audio. Ada juga player bawaan dari Ubuntu nya yang juga bagus.

Ya intinya hampir semua aplikasi untuk kegiatan sehari-hari sudah bisa dilakukan dengan Ubuntu dan aplikasinya. Namun begitu, ada satu hal yang saya belum menemukan solusinya di Ubuntu, yaitu aplikasi untuk flashing di smartphone android. Sementara ini aplikasi untuk flash android hanya tersedia di platform Windows. Karena itu dengan dual boot, masih tetap bisa menggunakan Windows untuk keperluan itu.

Internetan juga gampang

Ini lagi buat menonton film

Saat ada masalah dalam menggunakan Ubuntu pun, juga tidak susah untuk mencari solusinya. Biasanya dengan mencari di Google sudah mendapatkan solusinya. Apalagi saat ini makin banyak situs-situs yang menyediakan tanya jawab dan solusi seputar permasalahan Ubuntu, misalnya Askubuntu, OMGUbuntu, Ubuntuforum, dan masih banyak lagi yang lain. Atau malah lebih praktis lagi dengan mengikuti milis ubuntu Indonesia, karena bisa tanya jawab langsung dengan bahasa Indonesia.

Mau mencoba Ubuntu sekarang? Gampang, tinggal download iso-nya secara gratis, burn ke CD atau ke USB flashdisk, jalankan dan install. Ya segampang itu. Untuk aplikasi-aplikasi nya pun juga nanti tinggal download dari software center nya juga secara gratis.

Begitulah, dan setelah saya ingat-ingat, tidak terasa saya sudah lumayan lama menggunakan Ubuntu. Saya menggunakannya sejak tahun 2006 hingga sekarang.
Read More »

21 January 2015

Makan Meriah di Waduk Cirata

PLTA Cirata
Berawal dari pertanyaan seorang teman, “Pernah makan di waduk Cirata?” Karena belum pernah ke sana saya jawab, “Belum. Emang apa yang enak atau menarik di sana?” Teman saya tadi melanjutkan ceritanya bahwa kalau makan di sana, pesanan tidak dihitung berdasar makanan yang sudah matang, tapi dari bahan bakunya. Misalnya mau pesan ikan atau ayam berapa kilogram, beras berapa liter. Ikan dan ayam bisa diolah dengan dibakar atau digoreng dan nasinya adalah nasi liwet. Cara makannya pun disediakan piring, tapi sebagian besar makan beramai-ramai menggunakan nampan. Mendengar cerita teman tadi saya jadi tertarik untuk mencoba ke sana.

Akhirnya saat libur tahun baru 2014 saya dan keluarga berniat ke sana. Saya kontak teman saya tadi yang juga bersedia menemani untuk ke sana. Disamping biar jadi penunjuk jalannya juga sekaligus sekalian beramai-ramai dan meriah saat makannya.

Pagi-pagi kami berangkat agar tidak macet. Apalagi di saat libur tgl 1 Januari 2014 ini biasanya akan banyak orang yang liburan yang akan mengakibatkan jalur tol Jakarta – Cikampek macet. Tapi kali ini sepertinya saya beruntung. Perjalanan relatif lancar dan mobil bisa digeber lebih kencang. Entah kenapa jalanan lumayan lancar. Mungkin masih banyak yang tertidur gegara begadang di tahun baru.

Untuk menuju ke waduk Cirata, kalau dari arah Jakarta, keluar tol di gerbang Purwakarta / Ciganea. Setelah keluar tol di pertigaan ambil ke arah kanan jurusan Bandung. Setelah itu ada percabangan lagi yang ke kiri ke arah Bandung dan ke kanan arah Plered. Kita ambil ke arah Plered.

Buat yang belum tahu, daerah Plered ini terkenal dengan kerajinan keramiknya. Maka di jalanan daerah Plered banyak dijumpai sederetan kios-kios yang menjual kerajinan keramik. Salah satunya adalah deretan kios yang berada di dekat pasar Plered. Kami tidak mampir ke kios-kios ini. Sambil berjalan kami perhatikan berbagai kerajinan keramik dari yang berukuran kecil hingga besar. Ada vas bunga, tempayan, atau sekedar keramik hiasan. Ada juga beberapa kerajinan keramik yang zaman dulu sering digunakan untuk perabot rumah tangga seperti tempayan, gentong dan tungku. Istri ku sempat agak heboh saat melihat celengan dengan motif Hello Kitty dari yang ukuran besar sampai yang mini-mini. Dia katanya gemes ingin membelinya untuk oleh-oleh anak temennya yang tergila-gila dengan Hello Kitty.

Menurut info dari sini pusat kerajinan keramik ini ada di Desa Anjun, Citeko dan Pamoyanan, Kecamatan Plered, Purwakarta. Kerajinan keramik Plered ini telah dilakukan secara turun temurun dan diperkirakan dimulai sejak tahun 1904-an. Awalnya kerajinan keramik yang dibuat dari tanah liat hanya untuk memenuhi kebutuhan perkakas rumah tangga saja. Tetapi pada perkembangannya menjadi berbagai macam bentuk keramik baik hiasan atau sovenir yang menjadi sumber pendapatan masyarakat setempat. Suatu saat kepengen secara khusus ke tempat ini kalau ada kesempatan.

Lanjut lagi perjalanan ke waduk Cirata, kalau nanti sudah ketemu dengan pos penjagaan, pertanda kita sudah dekat dengan tujuan. Tadinya saya mengira di pos ini adalah tempat membeli tiket, tapi ternyata cuma mengecek mobil yang lewat saja. Kelak saya jadi tahu kenapa harus diperiksa oleh penjagaan, yaitu karena waduk Cirata adalah obyek vital, karena ini adalah kawasan pembangkit listrik tenaga air. Mungkin karena hari ini adalah hari libur jadi pengecekan hanya sambil lalu saja.

Di lingkungan waduk ini jalanan mulus, berkelok dan naik turun. Kiri-kanan banyak pohon yang tinggi dan daunnya yang lebat. Sesekali di kiri jalan bisa kita jumpai penjual sate maranggi dadakan. Mereka hanya menggunakan tenda kecil, tempat pembakaran yang kecil dan disediakan tikar untuk memakannya. Sepertinya enak makan sate maranggi sambil memandang pepohonan di sekitar sini. Tapi sayang, karena kami berniat makan seperti yang dipromosikan teman saya, jadinya cukup melihat sambil jalan saja.
Jalan yang mulus

Tepat di bendungan, nanti ada jalan bercabang. Kalau lurus ke arah Cianjur dan yang ke kiri ke arah Bandung. Untuk ke tempat makan yang saya maksud, kita mengarah ke kiri yang ke arah Bandung dan melewati bendungan. Di bendungan ini disamping bisa melihat ke kiri dan kanan berupa waduk di kejauhan dan di sisi seberangnya adalah lembah. Karena pemandangan dan udara yang segar, di bendungan ini jadi tempat favorit untuk melihat lihat dan berfoto. Tidak jarang orang pada melambatkan kendaraannya sehingga menyebabkan macet dari kedua sisi jembatan.
Jangan sampai salah jalan

Karena ini obyek vital maka banyak petugas keamanan yang berjaga di sini. Mereka mengingatkan para pengunjung agar tidak berhenti kendaraannya di sini. Kalau masih ada yang membandel masih ada petugas yang memberi peringatan agar tidak parkir melalui pengeras suara yang dipasang di sisi sisi jembatan. Tapi ya begitu lah, banyak pengunjung yang tidak disiplin dan susah diatur.
Di atas bendungan
Melihat waduk dari bendungan

Masih harus terus mengikuti jalan ini untuk sampai ke tempat kuliner yang saya maksudkan. Walau sebelum sampai sini, di sebelah kiri jalan ada kawasan kuliner, banyak juga warung-warungnya tapi hanya pemandangan pohon saja dan tempat parkir. Warungnya banyak tapi tidak begitu banyak yang datang ke sini.

Kalau kita lanjutkan lagi, di sebelah kanan ada semacam portal yang dijaga oleh warga setempat yang berpakaian Hansip, kita sudah sampai tempat makan yang dimaksud. O ya nama lokasinya adalah kawasan kuliner Buangan. Kawasan ini tepat berada di pinggir waduk dengan deretan warung-warung lesehan. Sementara di pinggir waduknya ada tempat persewaan naik perahu mengelilingi waduk.

Setelah membayar parkir menyusuri jalan ke warung-warung dengan jalan rusak, berbatu dan menurun. Harus berhati-hati karena jalanan lumayan sempit dan susah untuk berpapasan sesama mobil.
Jalan berbatu. Perhatikan pickup putih, penumpang baru pada turun
Duduk nyaman di mobl bak terbuka

Saat saya sampai lokasi terlihat deretan warung dipenuhi oleh pengunjung. Parkir mobil pun susah. Bahkan saya sampai harus memutar lagi dengan memasuki lagi gerbang yang tadi dijaga Hansip, karena menyusuri hingga ke ujung jalan masih belum dapat parkir dan jalannya ternyata tembus ke jalan besar menuju tempat masuk. Kami mendapat parkir walau masih agak jauh dengan warung yang dituju, jadi harus berjalan kaki bersaing dengan mobil dan sepeda motor yang juga masih berdatangan.

Melihat hampir semua warung penuh tentu saja akan merepotkan kita memilih tempat makannya. Untung nya teman yang menunjukkan tempat ke sini sudah sering mengunjungi salah saru warungnya. Kebetulan tempatnya di sekitar pojokan yang mendekati tempat penyewaan perahu. Tempat yang paling ramai di lokasi ini. Untuk mendapatkan tempat duduk di warung nya pun ternyata sulit juga. Harus menunggu bergantian dengan pengunjung lain yang masih menikmati hidangan makannya.

Dan seperti digambarkan sebelumnya, si Ibu penjaga warungnya langsung mencatat pesanan makan kami, yaitu berapa kilogram lauknya dan berapa liter beras untuk nasinya. Untuk kami berempat kami memesan 1 kg ayam, 1 kg ikan nila dan 1 liter untuk nasi liwetnya. Untuk ayam dan ikan nya kami minta dibakar saja. Sambil menunggu kami memesan kelapa muda untuk melepaskan rasa haus.
Seperti kenduri
Memandang ke waduk

Sekitar 40 menit kemudian pesanan datang. Lumayan lama karena memang kondisi pelanggan yang ramai. Bukan hanya di warung yang saya datangi, di sebelahnya pun kondisi sama. Untung saja sepertinya yang mengolah makanan sudah terbiasa jadi tidak terlalu keteter. Hanya memang harus sabar menunggu. Nasi liwet disajikan dengan pancinya, ikan dan ayam bakar ditempatkan di nampan, dilengkapi dengan sambal dadak dan lalap. Untuk menyantapnya disediakan piring dan nampan. Saya mencoba makan dengan menggunakan nampan agar sama dengan hampir semua pengunjung disini, yang makan beramai-ramai dengan nampan. Makannya jadi terasa seru.

Nasi liwetnya enak, terasa gurih dan sedikit asin, tapi ikan dan ayam bakarnya rasanya standar saja. Sambal dadak nya juga kurang pedas, apa ini karena cabe mahal ya. Walaupun begitu tapi kami makannya lahap. Bukanya hanya kami, pengunjung lain juga tampak makan dengan lahap. Apa ini karena lapar? Karena lama menunggu? Atau karena kebersamaannya? Entah lah
Ini dia sudah datang makanannya
Makan di nampan, pakai tangan
Lauk masih banyak, tapi perut sudah tidak muat

Soal harga memang bisa dibilang murah. Apalagi di sini adalah tempat wisata, yg mana biasanya makanan selalu mahal. Untuk makan kami berempat saja tidak sampai Rp 200 ribu sudah termasuk makanan dan minuman.

Setelah makan pun kami tidak bisa berlama lama duduk karena sudah ada pengunjung lain yang antri. Maka kami melanjutkan ke pinggir waduk untuk naik perahu. Di tengah danau kita bisa saksikan ramainya deretan warung dan mobil yang parkir di depannya. Kita juga bisa melihat para petambak yang sedang memanen ikan nila dari tambak terapung. Dikenakan biaya Rp 10 ribu / orang untuk naik perahu berkeliling sekitar danau.
Habis makan mari naik perahu
Ke tengah waduk hawanya segar

Saat pulang pun pengunjung masih berdatangan hingga kita susah untuk keluar kawasan warung ini. Saya masih terkesan dengan cara pesan dihitung dari bahan bakunya, pengunjung yang umumnya lahap makannya, serta berjubelnya kendaraan pribadi dari berbagai kalangan. Bukannya kendaraan pribadi terbaru saja dengan plat B dan D, tapi banyak juga kendaraan bak terbuka yang berkunjung untuk makan di sini. Benar-benar makan yang meriah.
Deretan warung dilihat dari waduk
Sebagian petambak mengambil ikan
Landscape dari tengah waduk

Fakta seputar bendungan waduk cirata:
Waduk Cirata terletak di tigak kabupaten, yaitu Cianjur, Bandung Barat dan Purwakarta. Waduk ini adalah waduk buatan dengan membendung kali Citarum yang dimanfaat untuk PLTA. Mulai beroperasi tahun 1988 PLTA Cirata yang saat ini dikelola oleh PT Pembangkit Jawa Bali berkapasitas terpasang 1008 megawatt. Dan ternyata PLTA Cirata adalah PLTA terbesar di Asia Tenggara. Tentu saja dengan fakta ini waduk dan PLTA Cirata adalah aset bangsa yang perlu dibanggakan.
Read More »

18 January 2015

Masih Soal Air Terjun Tancak

Melanjutkan posting sebelumnya yang kelewat panjang, ini masih ada beberapa yang perlu jadi perhatian sebelum berkunjung ke sana.

Buat saya pribadi, berwisata ke air terjun Tancak bukanlah wisata biasa. Tapi sudah termasuk wisata menantang dan sudah semi adventure. Sepertinya ini tidak cocok untuk wisata bersama keluarga, seperti misalnya ke pantai dst. Wisata ini cocok untuk penggemar trekking, hiking, atau penggemar wisata dengan medan berat.
Papan peringatan yang terpasang di depan pabrik gunung pasang (foto: pribadi)

Namun kalau mau berencana ke sana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Fisik yang kuat
    Menurut papan yang ada sebelum naik ke air terjun, tertulis jarak dari parkiran ke air terjun 2,5 km. Sepertinya jarak yang tidak terlalu jauh untuk jalan kaki. Tapi ternyata setelah dijalani, sepertinya jaraknya lebih dari itu. Ditambah lagi jalanan yang berbatu dan menanjak dan ada bagian tertentu yang sulit dilalui. Tentu ini butuh fisik yang kuat. Waktu saya tanya ke penjaga parkir berapa lama perjalanan jalan kaki ke air terjun, dia menjawab 1,5 jam paling cepat. Tentu saja buat yang jalannya santai bisa 2 jam baru sampai.

Read More »

15 January 2015

Gagal Melihat Air Terjun Tancak di Jember

Merasakan kegagalan waktu jalan-jalan itu menyakitkan. Apalagi gagal mencapai titik tempat wisata yang hanya tinggal sedikit lagi sudah sampai. Sakitnya tuh di sini, kata lagu dangdut yang sedang ngetop (sambil nunjuk betis), karena perjalanannya cukup jauh melintas kebun kopi di lereng Gunung Pasang, Jember.

Awalnya saya merasa senang saat tahu di Jember, kampung saya, ada air terjun yang cukup tinggi. Senang karena di daerah lain saya pernah mengunjungi beberapa air terjun. Misalnya di Jawa Barat pernah sekitar 4 air terjun, atau di daerah ini disebut curug. Di Malang juga pernah berkunjung di 2 air terjun, atau coban kalau kata orang Malang. Makanya di kampung sendiri jadi tertantang untuk mendatanginya.

Googling sebentar dan didapat info sebagai berikut: air terjun tingginya 82m, berlokasi di Desa Suci, Kec Panti, Kab Jember, Jawa Timur. Atau dari pusat kota Jember berjarak sekitar 16 Km ke arah barat daya. Cukup tinggi juga air terjun nya walau saya pernah lihat yg lebih tinggi dan lebih deras. Sudah lihat juga gambar-gambarnya yang ada di internet yang membuat jadi lebih semangat untuk datang ke sana.
Read More »

09 January 2015

Akhirnya Pilihan jatuh ke Sony DSC WX50

Saya lagi ingin cari pengganti kamera digital sebagai pengganti kamera yang lama. Karena yang lama, Canon Powershot A580 dirasa sudah tidak memadai lagi. Disamping belum ada image stabilizer, kamera ini hasilnya mengecewakan kalau dipakai untuk memotret di malam hari atau dalam suasana kurang cahaya. Sebaliknya  kalau untuk memotret di luar ruang pada siang hari, hasilnya masih lumayan bagus. Begitulah namanya kamera yang murah meriah.

Sumber: www.sony.co.id
Inginnya tentu saja kamera yang bagus, yg mirrorless, sensor full frame, atau bahkan mungkin sekalian ke DSLR. Tapi kalau dituruti tentu ingin yang tinggi-tinggi. Untuk saat ini yang paling pokok adalah ingin kamera saku yang ada image stabiliser dan kemampuan untuk menggambil gambar dimana kurang pencahayaan. Dan yang lebih terpenting lagi sesuai dengan dana yang dipunya. Sengaja ingin kamera saku biar praktis kalau dibawa kemana-mana. Misalnya di saat jalan-jalan.

Ini yang paling penting, soal dana. Seperti nasehat seorang teman, kalau ingin membeli sesuatu, gadget misalnya yang pertama ditentukan adalah jangan spesifikasinya dulu, tapi dananya dulu yang disiapkan berapa. Baru setelah itu dicarikan spek yang terbaik di kisaran dana itu. Karena kalau dibalik, tentu akan merepotkan. Tentu saja kita menginginkan spek yang tinggi, yang kualitas bagus, tapi saat dilihat harganya tentu saja tidak murah. Bisa jadi harganya di atas kemampuan kita.
Read More »