01 September 2012

Setelah Keriuhan Mudik Berlalu

September 01, 2012
Arus mudik dan balik sudah berakhir. Kota-kota tujuan balik bagi pemudik sudah mulai ramai. Jakarta pun sudah mulai 'normal' dengan kemacetannya, dan kontras dengan suasana lengang saat lebaran.

Walau pelaksanaan mudik dan balik tergolong lancar, tapi ada beberapa yg masih harus jadi perhatian. Diantara yang masih memprihatinkan adalah tingginya angka kecelakaan dibanding tahun lalu. Menurut Korlantas Polri jumlah kecelakaan sebanyak 5233 kasus dengan jumlah korban meninggal 908 orang. Sementara untuk kecelakaannya sendiri hampir 80% adalah melibatkan sepeda motor.

Melihat jumlah kecelakaan dan korban yang masih tinggi, perlu kiranya usaha yang lebih dari pemerintah untuk mengatasinya. Bahkan mantan Wapres Jusuf Kalla mengatakan perlu langkah yang tidak biasa untuk mengatasinya. Misalnya dengan menunjuk komandan, atau seorang menteri yang diberi wewenang khusus untuk memimpin pelaksanaan mudik lebaran (Kompas, 25 Agustus 2012, hal 1).

Salah satu langkahnya adalah menyediakan transportasi umum yang lebih banyak lagi dan lebih memadai. Ini dimaksudkan agar pengendara sepeda motor, korban kecelakaan terbesar, bisa beralih ke transportasi masal lain yang lebih nyaman, aman dan terjangkau harganya.

Untuk mengimbangi transportasi umum yang baik tentu perlu perbaikan infrastruktur. Untuk transportasi darat misalnya perlu segera terealisasi jalan tol trans Jawa, rel kereta api ganda sepanjang Jawa dan pelebaran jalan-jalan arteri non tol yang ada secepatnya.

Sementara untuk angkutan udara diperlukan peningkatan kapasitas dari bandara yang ada sekarang, hingga bisa melayani penerbangan yang lebih banyak. Demikian juga untuk angkutan penyeberangan dan laut, perlu perbaikan sarana pelabuhan dan kapal-kapal pengangkut.

Kesemuanya itu untuk rencana jangka menengah dan panjang. Sementara untuk jangka pendeknya, mestinya pelaksanaan proyek perbaikan jalan yang biasanya baru dilakukan menjelang puasa-lebaran, ada baiknya dilakukan mulai paska lebaran ini. Harapannya adalah agar saat mudik nanti jalanan sudah mulus dan tinggal memberesi hal-hal yang kecil.

Masih senada dengan yang disampaikan oleh Pak Jusuf Kalla, kolom di Harian Kompas menulis perlunya Darurat Perang untuk kawal pemudik (Kompas, 1 September 2012, hal 15).

Lalu kenapa mudik perlu dikelola dengan baik?
Mudik ternyata mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar. Data Bank Indonesia memperkirakan bahwa nilai transaksi sepanjang musim lebaran ini sebanyak Rp 89,4 triliun dan uang beredar sebanyak Rp 430 triliun.

Disamping itu, pada musim mudik inilah terjadi redistribusi ekonomi yang sangat besar, seperti yang dikatakan oleh Menteri Perekonomian Hatta Rajasa. Angka redistribusi ekonomi ke kampung halaman diperkirakan sekitar Rp 100 triliun atau sekitar 10% dari APBN.

Dengan potensi ekonomi yang sangat besar itu serta terjadinya distribusi ekonomi ke daerah, seyogyanya pemerintah bisa mengelola proses mudik ini agar berjalan dengan lancar dan korban kecelakaan yang makin minimal.

Bayangkan saja upaya pemerintah untuk melakukan program pemerataan pembangunan ke daerah-daerah belum menampakkan hasil yang diharapkan. Sementara dengan prosesi mudik yang hanya sekitar 2 minggu sudah menciptakan distribusi ekonomi ke kampung halaman dengan jumlah yang sangat besar.

Tentu saja tetap diperlukan penciptaan sentra-sentra ekonomi baru, agar perputaran ekonomi bisa tersebar dan tidak terpusat seperti yang terjadi sekarang ini. Disamping untuk pemerataan, juga bisa mengurangi urbanisasi.
logoblog
logoblog

4 comments:

  1. angka kecelakaan tahun ini memprihatinkan ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, masih tinggi dibanding tahun lalu. sebagian besar adalah pengendara motor. gimana ga celaka, pas arus mudik kemarin lihat di sekitar jalan kalimalang, motor yang mudik kayak semut...

      Delete
  2. iya bener, ngeri mendengar berita di televisi. Kecelakaaan waktu mudik luar biasa besar. Mungkinkah bisa dikatakan arus mudik adalah pembunuh nomor satu setiap tahunnya?
    hemm

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin bisa juga dikatakan seperti itu. bahkan sudah ada media yang mengatakan mudik sebagai ladang pembantaian :-)
      http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=2296

      Delete