21 January 2015

Makan Meriah di Waduk Cirata

PLTA Cirata
Berawal dari pertanyaan seorang teman, “Pernah makan di waduk Cirata?” Karena belum pernah ke sana saya jawab, “Belum. Emang apa yang enak atau menarik di sana?” Teman saya tadi melanjutkan ceritanya bahwa kalau makan di sana, pesanan tidak dihitung berdasar makanan yang sudah matang, tapi dari bahan bakunya. Misalnya mau pesan ikan atau ayam berapa kilogram, beras berapa liter. Ikan dan ayam bisa diolah dengan dibakar atau digoreng dan nasinya adalah nasi liwet. Cara makannya pun disediakan piring, tapi sebagian besar makan beramai-ramai menggunakan nampan. Mendengar cerita teman tadi saya jadi tertarik untuk mencoba ke sana.

Akhirnya saat libur tahun baru 2014 saya dan keluarga berniat ke sana. Saya kontak teman saya tadi yang juga bersedia menemani untuk ke sana. Disamping biar jadi penunjuk jalannya juga sekaligus sekalian beramai-ramai dan meriah saat makannya.

Pagi-pagi kami berangkat agar tidak macet. Apalagi di saat libur tgl 1 Januari 2014 ini biasanya akan banyak orang yang liburan yang akan mengakibatkan jalur tol Jakarta – Cikampek macet. Tapi kali ini sepertinya saya beruntung. Perjalanan relatif lancar dan mobil bisa digeber lebih kencang. Entah kenapa jalanan lumayan lancar. Mungkin masih banyak yang tertidur gegara begadang di tahun baru.

Untuk menuju ke waduk Cirata, kalau dari arah Jakarta, keluar tol di gerbang Purwakarta / Ciganea. Setelah keluar tol di pertigaan ambil ke arah kanan jurusan Bandung. Setelah itu ada percabangan lagi yang ke kiri ke arah Bandung dan ke kanan arah Plered. Kita ambil ke arah Plered.

Buat yang belum tahu, daerah Plered ini terkenal dengan kerajinan keramiknya. Maka di jalanan daerah Plered banyak dijumpai sederetan kios-kios yang menjual kerajinan keramik. Salah satunya adalah deretan kios yang berada di dekat pasar Plered. Kami tidak mampir ke kios-kios ini. Sambil berjalan kami perhatikan berbagai kerajinan keramik dari yang berukuran kecil hingga besar. Ada vas bunga, tempayan, atau sekedar keramik hiasan. Ada juga beberapa kerajinan keramik yang zaman dulu sering digunakan untuk perabot rumah tangga seperti tempayan, gentong dan tungku. Istri ku sempat agak heboh saat melihat celengan dengan motif Hello Kitty dari yang ukuran besar sampai yang mini-mini. Dia katanya gemes ingin membelinya untuk oleh-oleh anak temennya yang tergila-gila dengan Hello Kitty.

Menurut info dari sini pusat kerajinan keramik ini ada di Desa Anjun, Citeko dan Pamoyanan, Kecamatan Plered, Purwakarta. Kerajinan keramik Plered ini telah dilakukan secara turun temurun dan diperkirakan dimulai sejak tahun 1904-an. Awalnya kerajinan keramik yang dibuat dari tanah liat hanya untuk memenuhi kebutuhan perkakas rumah tangga saja. Tetapi pada perkembangannya menjadi berbagai macam bentuk keramik baik hiasan atau sovenir yang menjadi sumber pendapatan masyarakat setempat. Suatu saat kepengen secara khusus ke tempat ini kalau ada kesempatan.

Lanjut lagi perjalanan ke waduk Cirata, kalau nanti sudah ketemu dengan pos penjagaan, pertanda kita sudah dekat dengan tujuan. Tadinya saya mengira di pos ini adalah tempat membeli tiket, tapi ternyata cuma mengecek mobil yang lewat saja. Kelak saya jadi tahu kenapa harus diperiksa oleh penjagaan, yaitu karena waduk Cirata adalah obyek vital, karena ini adalah kawasan pembangkit listrik tenaga air. Mungkin karena hari ini adalah hari libur jadi pengecekan hanya sambil lalu saja.

Di lingkungan waduk ini jalanan mulus, berkelok dan naik turun. Kiri-kanan banyak pohon yang tinggi dan daunnya yang lebat. Sesekali di kiri jalan bisa kita jumpai penjual sate maranggi dadakan. Mereka hanya menggunakan tenda kecil, tempat pembakaran yang kecil dan disediakan tikar untuk memakannya. Sepertinya enak makan sate maranggi sambil memandang pepohonan di sekitar sini. Tapi sayang, karena kami berniat makan seperti yang dipromosikan teman saya, jadinya cukup melihat sambil jalan saja.
Jalan yang mulus

Tepat di bendungan, nanti ada jalan bercabang. Kalau lurus ke arah Cianjur dan yang ke kiri ke arah Bandung. Untuk ke tempat makan yang saya maksud, kita mengarah ke kiri yang ke arah Bandung dan melewati bendungan. Di bendungan ini disamping bisa melihat ke kiri dan kanan berupa waduk di kejauhan dan di sisi seberangnya adalah lembah. Karena pemandangan dan udara yang segar, di bendungan ini jadi tempat favorit untuk melihat lihat dan berfoto. Tidak jarang orang pada melambatkan kendaraannya sehingga menyebabkan macet dari kedua sisi jembatan.
Jangan sampai salah jalan

Karena ini obyek vital maka banyak petugas keamanan yang berjaga di sini. Mereka mengingatkan para pengunjung agar tidak berhenti kendaraannya di sini. Kalau masih ada yang membandel masih ada petugas yang memberi peringatan agar tidak parkir melalui pengeras suara yang dipasang di sisi sisi jembatan. Tapi ya begitu lah, banyak pengunjung yang tidak disiplin dan susah diatur.
Di atas bendungan
Melihat waduk dari bendungan

Masih harus terus mengikuti jalan ini untuk sampai ke tempat kuliner yang saya maksudkan. Walau sebelum sampai sini, di sebelah kiri jalan ada kawasan kuliner, banyak juga warung-warungnya tapi hanya pemandangan pohon saja dan tempat parkir. Warungnya banyak tapi tidak begitu banyak yang datang ke sini.

Kalau kita lanjutkan lagi, di sebelah kanan ada semacam portal yang dijaga oleh warga setempat yang berpakaian Hansip, kita sudah sampai tempat makan yang dimaksud. O ya nama lokasinya adalah kawasan kuliner Buangan. Kawasan ini tepat berada di pinggir waduk dengan deretan warung-warung lesehan. Sementara di pinggir waduknya ada tempat persewaan naik perahu mengelilingi waduk.

Setelah membayar parkir menyusuri jalan ke warung-warung dengan jalan rusak, berbatu dan menurun. Harus berhati-hati karena jalanan lumayan sempit dan susah untuk berpapasan sesama mobil.
Jalan berbatu. Perhatikan pickup putih, penumpang baru pada turun
Duduk nyaman di mobl bak terbuka

Saat saya sampai lokasi terlihat deretan warung dipenuhi oleh pengunjung. Parkir mobil pun susah. Bahkan saya sampai harus memutar lagi dengan memasuki lagi gerbang yang tadi dijaga Hansip, karena menyusuri hingga ke ujung jalan masih belum dapat parkir dan jalannya ternyata tembus ke jalan besar menuju tempat masuk. Kami mendapat parkir walau masih agak jauh dengan warung yang dituju, jadi harus berjalan kaki bersaing dengan mobil dan sepeda motor yang juga masih berdatangan.

Melihat hampir semua warung penuh tentu saja akan merepotkan kita memilih tempat makannya. Untung nya teman yang menunjukkan tempat ke sini sudah sering mengunjungi salah saru warungnya. Kebetulan tempatnya di sekitar pojokan yang mendekati tempat penyewaan perahu. Tempat yang paling ramai di lokasi ini. Untuk mendapatkan tempat duduk di warung nya pun ternyata sulit juga. Harus menunggu bergantian dengan pengunjung lain yang masih menikmati hidangan makannya.

Dan seperti digambarkan sebelumnya, si Ibu penjaga warungnya langsung mencatat pesanan makan kami, yaitu berapa kilogram lauknya dan berapa liter beras untuk nasinya. Untuk kami berempat kami memesan 1 kg ayam, 1 kg ikan nila dan 1 liter untuk nasi liwetnya. Untuk ayam dan ikan nya kami minta dibakar saja. Sambil menunggu kami memesan kelapa muda untuk melepaskan rasa haus.
Seperti kenduri
Memandang ke waduk

Sekitar 40 menit kemudian pesanan datang. Lumayan lama karena memang kondisi pelanggan yang ramai. Bukan hanya di warung yang saya datangi, di sebelahnya pun kondisi sama. Untung saja sepertinya yang mengolah makanan sudah terbiasa jadi tidak terlalu keteter. Hanya memang harus sabar menunggu. Nasi liwet disajikan dengan pancinya, ikan dan ayam bakar ditempatkan di nampan, dilengkapi dengan sambal dadak dan lalap. Untuk menyantapnya disediakan piring dan nampan. Saya mencoba makan dengan menggunakan nampan agar sama dengan hampir semua pengunjung disini, yang makan beramai-ramai dengan nampan. Makannya jadi terasa seru.

Nasi liwetnya enak, terasa gurih dan sedikit asin, tapi ikan dan ayam bakarnya rasanya standar saja. Sambal dadak nya juga kurang pedas, apa ini karena cabe mahal ya. Walaupun begitu tapi kami makannya lahap. Bukanya hanya kami, pengunjung lain juga tampak makan dengan lahap. Apa ini karena lapar? Karena lama menunggu? Atau karena kebersamaannya? Entah lah
Ini dia sudah datang makanannya
Makan di nampan, pakai tangan
Lauk masih banyak, tapi perut sudah tidak muat

Soal harga memang bisa dibilang murah. Apalagi di sini adalah tempat wisata, yg mana biasanya makanan selalu mahal. Untuk makan kami berempat saja tidak sampai Rp 200 ribu sudah termasuk makanan dan minuman.

Setelah makan pun kami tidak bisa berlama lama duduk karena sudah ada pengunjung lain yang antri. Maka kami melanjutkan ke pinggir waduk untuk naik perahu. Di tengah danau kita bisa saksikan ramainya deretan warung dan mobil yang parkir di depannya. Kita juga bisa melihat para petambak yang sedang memanen ikan nila dari tambak terapung. Dikenakan biaya Rp 10 ribu / orang untuk naik perahu berkeliling sekitar danau.
Habis makan mari naik perahu
Ke tengah waduk hawanya segar

Saat pulang pun pengunjung masih berdatangan hingga kita susah untuk keluar kawasan warung ini. Saya masih terkesan dengan cara pesan dihitung dari bahan bakunya, pengunjung yang umumnya lahap makannya, serta berjubelnya kendaraan pribadi dari berbagai kalangan. Bukannya kendaraan pribadi terbaru saja dengan plat B dan D, tapi banyak juga kendaraan bak terbuka yang berkunjung untuk makan di sini. Benar-benar makan yang meriah.
Deretan warung dilihat dari waduk
Sebagian petambak mengambil ikan
Landscape dari tengah waduk

Fakta seputar bendungan waduk cirata:
Waduk Cirata terletak di tigak kabupaten, yaitu Cianjur, Bandung Barat dan Purwakarta. Waduk ini adalah waduk buatan dengan membendung kali Citarum yang dimanfaat untuk PLTA. Mulai beroperasi tahun 1988 PLTA Cirata yang saat ini dikelola oleh PT Pembangkit Jawa Bali berkapasitas terpasang 1008 megawatt. Dan ternyata PLTA Cirata adalah PLTA terbesar di Asia Tenggara. Tentu saja dengan fakta ini waduk dan PLTA Cirata adalah aset bangsa yang perlu dibanggakan.
Read More »

18 January 2015

Masih Soal Air Terjun Tancak

Melanjutkan posting sebelumnya yang kelewat panjang, ini masih ada beberapa yang perlu jadi perhatian sebelum berkunjung ke sana.

Buat saya pribadi, berwisata ke air terjun Tancak bukanlah wisata biasa. Tapi sudah termasuk wisata menantang dan sudah semi adventure. Sepertinya ini tidak cocok untuk wisata bersama keluarga, seperti misalnya ke pantai dst. Wisata ini cocok untuk penggemar trekking, hiking, atau penggemar wisata dengan medan berat.
Papan peringatan yang terpasang di depan pabrik gunung pasang (foto: pribadi)

Namun kalau mau berencana ke sana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Fisik yang kuat
    Menurut papan yang ada sebelum naik ke air terjun, tertulis jarak dari parkiran ke air terjun 2,5 km. Sepertinya jarak yang tidak terlalu jauh untuk jalan kaki. Tapi ternyata setelah dijalani, sepertinya jaraknya lebih dari itu. Ditambah lagi jalanan yang berbatu dan menanjak dan ada bagian tertentu yang sulit dilalui. Tentu ini butuh fisik yang kuat. Waktu saya tanya ke penjaga parkir berapa lama perjalanan jalan kaki ke air terjun, dia menjawab 1,5 jam paling cepat. Tentu saja buat yang jalannya santai bisa 2 jam baru sampai.

Read More »

15 January 2015

Gagal Melihat Air Terjun Tancak di Jember

Merasakan kegagalan waktu jalan-jalan itu menyakitkan. Apalagi gagal mencapai titik tempat wisata yang hanya tinggal sedikit lagi sudah sampai. Sakitnya tuh di sini, kata lagu dangdut yang sedang ngetop (sambil nunjuk betis), karena perjalanannya cukup jauh melintas kebun kopi di lereng Gunung Pasang, Jember.

Awalnya saya merasa senang saat tahu di Jember, kampung saya, ada air terjun yang cukup tinggi. Senang karena di daerah lain saya pernah mengunjungi beberapa air terjun. Misalnya di Jawa Barat pernah sekitar 4 air terjun, atau di daerah ini disebut curug. Di Malang juga pernah berkunjung di 2 air terjun, atau coban kalau kata orang Malang. Makanya di kampung sendiri jadi tertantang untuk mendatanginya.

Googling sebentar dan didapat info sebagai berikut: air terjun tingginya 82m, berlokasi di Desa Suci, Kec Panti, Kab Jember, Jawa Timur. Atau dari pusat kota Jember berjarak sekitar 16 Km ke arah barat daya. Cukup tinggi juga air terjun nya walau saya pernah lihat yg lebih tinggi dan lebih deras. Sudah lihat juga gambar-gambarnya yang ada di internet yang membuat jadi lebih semangat untuk datang ke sana.
Read More »

09 January 2015

Akhirnya Pilihan jatuh ke Sony DSC WX50

Saya lagi ingin cari pengganti kamera digital sebagai pengganti kamera yang lama. Karena yang lama, Canon Powershot A580 dirasa sudah tidak memadai lagi. Disamping belum ada image stabilizer, kamera ini hasilnya mengecewakan kalau dipakai untuk memotret di malam hari atau dalam suasana kurang cahaya. Sebaliknya  kalau untuk memotret di luar ruang pada siang hari, hasilnya masih lumayan bagus. Begitulah namanya kamera yang murah meriah.

Sumber: www.sony.co.id
Inginnya tentu saja kamera yang bagus, yg mirrorless, sensor full frame, atau bahkan mungkin sekalian ke DSLR. Tapi kalau dituruti tentu ingin yang tinggi-tinggi. Untuk saat ini yang paling pokok adalah ingin kamera saku yang ada image stabiliser dan kemampuan untuk menggambil gambar dimana kurang pencahayaan. Dan yang lebih terpenting lagi sesuai dengan dana yang dipunya. Sengaja ingin kamera saku biar praktis kalau dibawa kemana-mana. Misalnya di saat jalan-jalan.

Ini yang paling penting, soal dana. Seperti nasehat seorang teman, kalau ingin membeli sesuatu, gadget misalnya yang pertama ditentukan adalah jangan spesifikasinya dulu, tapi dananya dulu yang disiapkan berapa. Baru setelah itu dicarikan spek yang terbaik di kisaran dana itu. Karena kalau dibalik, tentu akan merepotkan. Tentu saja kita menginginkan spek yang tinggi, yang kualitas bagus, tapi saat dilihat harganya tentu saja tidak murah. Bisa jadi harganya di atas kemampuan kita.
Read More »