02 November 2012

Naik Kereta Api, tut tut tut

November 02, 2012
Foto: Pribadi
Ceritanya, pas libur panjang yang bertepatan dengan Idul Adha kemarin, ingin jalan-jalan ke Surabaya dengan naik kereta api. Kebetulan sudah lama juga tidak naik kereta api. Kalau tidak salah, terakhir kali adalah sekitar 10 tahun lalu.

Sebenarnya saya malas naik kereta. Bukan karena sok atau apa, pelayanan kereta api makin lama makin memburuk. Disamping sudah tidak nyaman, banyak cerita-cerita negatif tentang pelayanan, jadwal yang molor, kerusakan kereta dalam perjalanan, bahkan kecelakaan kereta. Disamping itu, soal waktu. Perjalanan dengan kereta api lumayan lama, yang membuat liburan malah hanya akan habis untuk perjalanan saja.

Ndilalah dalam persiapan liburan kemarin, ada sedikit masalah dengan tiket pesawat. Harga tiket pesawat untuk keberangkatan yang kami inginkan ternyata lumayan mahal. Akhirnya karena pertimbangan waktu libur kami yang lumayan panjang, dicobalah untuk berangkatnya naik kereta api, lalu pulangnya naik pesawat terbang.

Kami terbiasa untuk membeli tiket untuk berangkat dan pulangnya sebelum melakukan perjalanan. Jadinya tiket kereta dan tiket pesawat sudah siap di tas sebelum kami melakukan perjalanan.

Tiket sudah diperiksa (foto: pribadi)
Pertiketan
Apa yang ada di benak anda kalau membicarakan tiket kereta api? Ya percaloan. Itu juga hal pertama yang terlintas di benak saya. Dan itu salah satu yang membuat saya malas untuk naik kereta api.

Tapi untungnya ada kabar baik. Semenjak lebaran lalu (2012) pengelola kereta api memperbaiki soal pertiketan ini. Salah satunya setiap pembelian tiket harus menunjukkan identitas diri dan akan di-cek ketat saat masuk ke ruang tunggu stasiun. Mirip seperti kalau kita membeli tiket pesawat dan juga pengecekan saat masuk ke ruangan bandara. Yang lainnya lagi, tiket juga bisa dipesan di Indomaret atau dengan lewat internet, dan juga beberapa tempat lain seperti yang tertulis di situs resmi PT Kereta Api.

Tentu saja kami tertarik untuk mencoba memesan tiket lewat internet. Jadi sekalian memesan tiket pesawat untuk pulangnya nanti. Hanya dengan sekali membuka internet bisa sekaligus pesan tiket kereta api dan pesawat.

Ternyata prosesnya pun sangat mudah. Tinggal masuk ke situs resminya PT Kereta Api , lakukan pemesanan sesuai identitas, catat nomor kode pemesanan dan lakukan pembayaran lewat ATM. Proses pemesanannya sendiri termasuk cepat, demikian juga pembayarannya via ATM, karena sudah ada menu pembayaran tiket kereta api di ATM beberapa bank besar.

Setelah itu, pada hari keberangkatan tinggal menukarkan dokumen pemesanan dan juga bukti pembayaran dengan tiket asli di loket khusus untuk pembelian lewat internet atau tempat pemesanan lain. Tentu saja harus menunjukkan identitas asli sesuai dengan yang tertulis di lembar pemesanan.

Dan saat masuk, tiket akan dicek lagi dengan identitas asli sesuai yang tertera di tiket.

Saya suka dengan pembenahan pertiketan ini. Disamping pemesanannya mudah, pengecekan sesuai identitas benar-benar diterapkan saat masuk ke stasiun. Penumpang pun terlihat makin tertib. Jauh berbeda keadaannya dibanding sebelum sistem ini diterapkan.

Ruang tunggu (foto: pribadi)
Fasilitas Stasiun
Satu hal yang juga berbeda, petugasnya sekarang lebih ramah. Waktu kemarin baru sampai stasiun Gambir, saya menanyakan kepada petugas di mana loket tempat penukaran tiket kalau kita sudah memesan lewat internet. Dengan ramah dan informatif petugas security membantu.

Ruang tunggu pun sekarang terkesan rapi, tempat duduknya cukup banyak sehingga mencukupi untuk kondisi penumpang di musim normal. Mungkin kalau sedang musim ramai seperti liburan atau lebaran tentu masih kurang. Sepintas, kalau dibandingkan suasana ruang tunggunya tidak kalah nyaman dengan di bandara. Hanya saja, ada beberapa orang yang masih saja merokok sembarangan. Padahal sudah jelas-jelas ada tanda larangan merokok. Tapi secara umum masih cukup nyaman.

Tadi sebelum memasuki ruang tunggu, saya sempat mampir ke toilet. Toiletnya bersih, mencukupi dan gratis. Ada petugas yang standby yang secara teratur menjaga kebersihan toilet. Seingat saya dulu tidak seperti ini, kurang bersih dan dipungut bayaran.

Hanya saja, saat shalat, mushala terasa agak sempit. Mushala hanya muat untuk beberapa orang saja, ini membuat orang mengantri untuk shalat. Tentu saja hal ini membuat orang tidak nyaman, baik yang sedang shalat karena ditunggu-tunggu dan juga yang mengantri. Walau begitu mushala dan tempat wudhunya termasuk bersih. Hanya kurang luas saja.

Di perjalanan
Sekitar 30 menit sebelum keberangkatan, ada pengumuman penumpang segera menuju ke peron. Karena kereta api Sembrani jurusan Surabaya akan segera datang. Petugas pun mengatur penumpang untuk berada di posisi tertentu sesuai gerbong yang akan dinaiki. Sampai disini petugasnya informatif dan sangat membantu. Kereta pun berangkat tepat waktu.

Kami mendapatkan tempat duduk di gerbong 1, gerbong terdepan. Saat masuk, walau gerbong lama, tapi kondisinya bersih dan pendingin udara yang berfungsi baik. Tempat duduknya juga nyaman. Lumayan untuk perjalanan yang hampir semalam ke Surabaya.

Hingga akhirnya kereta ada sedikit masalah saat sampai di stasiun Cirebon. Dari pengeras suara stasiun diumumkan kalau kereta mengalami gangguan ada sedikit kebocoran di saluran bahan bakar. Perlu waktu beberapa menit untuk memperbaikinya. Syukurlah hanya perlu waktu sekitar 30 menit sudah beres dan kereta melanjutkan perjalanan lagi.

Perjalanan lancar-lancar saja hingga masuk stasiun Pasar Turi sekitar jam 7 pagi. Ini telat sedikit dari yang dijadwalkan. Tapi telatnya masih bisa ditolerir, apalagi sempat mengalami sedikit kerusakan yang harus berhenti dulu sekitar 30 menit.

Akhirnya
Secara umum perjalanan kami dengan kereta cukup nyaman. Toilet kereta pun, walau sederhana tapi selalu bersih karena tiap berapa jam sekali ada petugas yang membersihkan. Saat berhenti di stasiun pun, pedagang hanya berani menjajakan dagangan dengan teriak di sambungan gerbong, tidak masuk ke dalam gerbong.

Suasana gerbong terasa aman karena jumlah Polsuska dan Satpam mencukupi dan sering mondar mandir berpatroli melewati gerbong.

Sayangnya pas sampai stasiun Pasar Turi, Surabaya, suasana stasiun kurang nyaman dan semwrawut. Saya tidak tahu ini hanya perasaan saya saja setelah kecapean dengan semalam perjalanan naik kereta, atau memang seperti itu keadaannya.

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan tentang liburan akhir Oktober 2012
logoblog

4 comments:

  1. sudah jauh berubah banget ya pelayanan PT KA, jadi tertib dan modern...
    jadi pengen naik kereta lagi, terakhir nsik kereta itu udah lebih sepuluh tahun deh...
    yg sy nggak suka di kereta ya banyak pedagang yg masuk dan bau pesing he..he...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, spt nya jauh lebih baik dan manusiawi bu sekarang.

      pengalaman saya naik kereta pun lumayan lengkap. dulu di awal-awal merantau ke jkt, saat pulang kampung saya selalu menggunakan kereta api. alasannya ya faktor ekonomis aja. bayangkan saja, di awal th 90-an, dengan uang rp. 14rb saya bisa naik kereta api jurusan jkt - sby. kereta api yang sering saya langgani dulu adalah 'gaya baru malam utara' dan 'kertajaya' jurusan surabaya.

      di kereta2 itu, dulu, sudah merupakan kemewahan bisa mendapatkan tempat duduk dalam perjalanan. maklumlah saat itu selalu dalam masa lebaran. jadi berjubel nya ya seperti yang diberitakan di tv itu. bahkan sudah menjadi hal yang biasa selama perjalanan duduk klesetan (dan tidur) di lantai kereta. tentu saja spt kata bu monda tadi, banyak pedagang dan bau pesing he he he...

      pernah juga mencoba yang non ekonomi (jayabaya, sembrani, argo bromo). memang lebih nyaman, tapi tetap saja tidak tertib dan kurang bersih. juga kurang aman.

      dulu, kereta api selalu identik dg stasiun yg kumuh dan tidak tertib, percaloan tiket, rawan keamanan, fasilitas umum yg kotor, dan di kereta yang identik dg yg ibu monda bilang.

      tapi, spt pengalaman saya di atas sudah banyak berubah.

      Delete
  2. udah byk yg cerita kl skrg PT. KAI banyak mengalami kemajuan ya.. Terakhir sy blm naik kereta blm ada perubahan itu.. Kapan2 pengen coba ah :)

    ReplyDelete
  3. bukan hanya kelas eksekutif saja yg mengalami perubahan, kelas bisnis & ekonomi skrg sudah nyaman, malah skrg sedang diberlakukan pedagang asongan dilarang berjualan diatas kereta. walaupun di kelas ekonomi.
    kebersihan gerbong, toilet skrg jd perhatian, & selalu terjaga.
    jd kereta api skrg sudah nyaman, memanjakan penumpang.
    baik itu kelas ekekutif, bisnis, ekonomi.

    ReplyDelete