09 June 2012

Bahasa Gaul

Gambar: kitabgaul.com
Saya kadang-kadang kesulitan mengerti kata-kata dalam bahasa gaul yang dipakai sekarang. Misalnya saat bicara dengan teman, di tengah pembicaraan teman saya menyebut kata 'jiah'. Sambil tetap melanjutkan pembicaraan, saya menebak-nebak apa sebenarnya yang dimaksudkan. Tapi ya sudahlah barangkali cuma sebuah ungkapan. Karena masih penasaran juga saya coba tanya ke teman saya tersebut. Dia tidak menjawab seperti yang saya harapkan. Dia cuma tersenyum dan mengatakan itu cuma bahasa gaul saja. Jangan terlalu dipikirkan artinya.

Atau suatu ketika saat membaca status Facebook dari keponakan, dalam interaksi sesama meraka, seringkali dipakai kata 'ea' dalam interaksi di Facebook. Ini juga membuat saya penasaran apa sih arti sebenarnya dari kata gaul tersebut.

Satu lagi kata gaul mungkin yang sering kita dengar, yaitu 'galau'. Ini sering kita dengar dari pembicaraan sehari-hari, baik itu di radio, TV atau dalam interaksi sosial media. Dan saking populernya bahkan dijadikan nama acara di salah satu TV swasta (Galau Nite di Metrotv). Kalau kita sedikit perhatikan, kata 'galau' sebagai kata gaul akan sedikit berbeda artinya dengan 'galau' dalam kamus standar Bahasa Indonesia.

Iseng-iseng saya cari di internet arti dari kata-kata tersebut. Dari mesin pencari banyak tulisan-tulisan yang saya cari. Ada satu yang menurut saya menarik untuk dilihat. Namanya kitab gaul.

Lalu di situ saya mulai coba cari arti dari kata 'jiah'. Menurut kitab gaul, kata 'jiah' tidak mempunya arti khusus. Ia hanya mendefinisikan ekspresi kesal atau menggurutu. Penasaran juga untuk mencari arti dari kata 'ea'. Ternyata kata ini tidak ditemukan di lema kitab gaul ini. Yang ada malah 'eaaa' yang artinya adalah kata yang diucapkan setelah mengucapkan kata-kata gombal. Jiah! ternyata seperti itu yang dimaksudkan.

Tapi mestinya saya tidak boleh mengucapkan kata 'jiah' karena menggerutu. Kalau saya tidak puas dengan arti kata-kata gaul tadi saya bisa mengusulkan arti yang lebih baik yang digunakan sekarang. Begitu anjuran di situs kitab gaul yang tertulis di setiap akhir lema kata-kata gaul tersebut. Tapi saya tidak lakukan.

Saya termasuk yang kurang suka menggunakan kata-kata gaul dalam berinteraksi. Baik itu dengan teman atau dengan anggota keluarga. Saya tidak memakai kata-kata gaul itu bukan berarti ada yang salah dengan bahasa gaul. Hanya pilihan pribadi saja. Sesekali saya menggunakan 'elu, gue' untuk berbicara dengan teman yang sudah benar-benar akrab. Karena dalam batas-batas tertentu ternyata bahasa gaul juga bisa menambah akrab komunikasi kita. Tapi umumnya saya menggunakan bahasa sehari-hari 'non gaul' untuk berinteraksi.

Walau begitu bahasa gaul bisa menandai sebuah era. Kita tentu ingat era 90-an. Pada era itu bahasa gaul yang sering digunakan adalah kata-kata gaul seperti yang disusun oleh Debby Sahertian dalam sebuah kamus. Namanya Kamus Bahasa Gaul yang terbit pada tahun 1999. Tentu saja kata-kata gaul itu terasa aneh kalau kita gunakan dalam komunikasi saat ini. Sama anehnya saat kita tidak mengerti arti kata-kata gaul dalam pembicaraan anak-anak gaul sekarang ini.

Bagi saya bahasa gaul tetap perlu dipelajari. Walau saya memilih untuk tidak menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Saya senang mengamati dinamika anak-anak sekarang, khususnya ABG, yang begitu dinamis dalam berkomunikasi dan menciptakan istilah-istilah baru.

2 comments:

  1. Bahasa gaul tampaknya berubah mengikuti jaman Mas..Kalau jamannya saya bahasa gaul disebutnya bahasa "okem" yg datang dari prokem alis preman..Anak sekarang gak ada yg mau disebut okem kali ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bu, bahasa gaul, seperti hal nya bahasa standar juga berkembang mengikuti zaman dan pemakainya. Mungkin saja istilah2 gaul saat ini akan tidak laku dan diketawai oleh cucu2 kita nanti.

      Tentang okem atau prokem atau preman, kata ini mungkin maknanya juga sudah mulai bergeser. Kalau dulu kata2 ini terkesan keren, tapi sekarang terkesan sebagai kriminal. Bener ga bu? :-)

      Delete