06 May 2012

Melihat Kawah Putih di Bandung Selatan

May 06, 2012
Gerbang Kawah Putih

Selama ini kalau saya jalan-jalan ke Bandung, tujuannya selalu di Bandung Kota dan Bandung Utara. Karena di kedua wilayah inilah icon Bandung sebagai kota wisata belanja dan kuliner berpusat. Siapa yang tidak kenal daerah Dago, Cihampelas, Sarijadi hingga Lembang dan Ciumbuleuit. Tempat makan atau istilah kerennya kuliner, tempat belanja, factory outlet atau tempat-tempat yang menarik lainnya banyak sekali di daerah sini. Pantas saja orang yang berwisata ke kota Bandung ya cuma di sekitar sini aja.

Lama kelamaan karena sering ke Bandung, ingin mencari suasana baru. Pasti masih banyak hal-hal lain di Bandung dan sekitarnya yang menarik untuk dikunjungi. Walaupun yang konsepnya bukan seperti umumnya, misalnya wisata alam atau obyek yang menarik untuk dilihat. Dan ingin mencoba ke Bandung Selatan.



Salah satu pilihan adalah Kawah Putih. Wisata ini cukup populer. Terbukti banyak orang membicarakannya kalau ingin berwisata ke Bandung Selatan. Tulisan-tulisan di internet pun banyak bertebaran. Juga foto-foto keindahannya sudah bisa kita nikmati sebelum mengunjunginya.

Kebetulan belum pernah kesana. Sementara ini sering ke Bandung, tapi kadang-kadang terasa bosan karena masih ke tempat-tempat yang sama dengan yang didatangi sebelumnya. Baik itu tempat makan, tempat belanja atau tempat nongkrong. Maka saat ada kesempatan ke Bandung lagi, tepatnya pada liburan tanggal 6 April 2012, direncanakan kalau ingin coba ke Kawah Putih di daerah Bandung Selatan.

Langkah pertama tentu mencari-mencari informasi seputar Kawah Putih. Dari google tinggal masukkan kata kunci Kawah Putih akan banyak informasi-informasi seputar kawah putih. Lumayan buat info pendahuluan tentang obyek wisata yang akan kita datangi dan bagaimana cara untuk mencapai lokasi.

Karena masih buta arah perjalanan info rute bisa dicari dan dilihat di google maps. Tinggal tentukan saja titik awal perjalanan dan tujuan akhir, maka google maps akan menampilkan rute perjalanannya. Tentu saja itu saran rute dari google maps, bisa jadi ada perbedaan dengan saat nanti dijalani. Sementara ini sudah didapatkan rutenya, yaitu lewat Kopo, Soreang, Ciwidey. Total jarak sekitar 50 km dengan jarak tempuh sekitar 2 jam pakai mobil dari pusat kota Bandung.

Setelah persiapan beres dimulailah perjalanan berwisatanya. Berangkat pagi-pagi dari Bekasi dengan harapan bisa sampai tujuan tidak terlalu siang. Sekitar jam 6 pagi sudah masuk tol Bekasi Barat dan perjalanan dilanjutkan ke tol Jakarta – Cikampek dan lanjut tol Cipularang. Keluar tol Kopo sekitar 2 jam perjalanan dan berhenti sebentar setelah pintu tol untuk membaca kembali dan memastikan rute yang akan dilewati. Maklum saja karena ini perjalanan pertama dan modal petunjuk dari peta online saja.

Dari pintu keluar tol Kopo, ketemu lampu merah di pertigaan ambil jalur kanan ke arah Soreang. Seperti biasa, macet. Mungkin karena kondisi jalan yang tidak terlalu lebar sementara banyak juga tempat keramaian dan jalan ini adalah salah satu jalur keluar masuk ke Bandung Selatan. Setelah sekitar 5 km baru terasa berkurang macetnya. Walau jalanan masih belum juga lebar tapi arus lalu lintas cukup lancar. Baru nanti kalau sudah memasuki wilayah Soreang jalanan tersendat lagi. Kebetulan kemarin melewati jalan di pasar Soreang yang satu arah, macet sekali. Banyaknya yg berkendara disitu dan angkot yang ngetem seenaknya makin menambah kemacetan. Selepas pasar jalanan lancar kembali dan tinggal mengikuti arah dari Soreang – Ciwidey – Kawah Putih. Jalanan umumnya berkelok-kelok dan menanjak. Diperlukan konsentrasi yang penuh agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dari Soreang arah Ciwidey di perjalanan mulai kita temui suasana yang khas. Tidak seperti sebelumnya dengan suasana kota Bandung yang macet. Di kiri kanan ada sawah-sawah di antara rumah-rumah penduduk. Malah sudah mulai terlihat kebun-kebun strawberry yg luas. Jalan-jalan pun yang tadi di bawah agak rusak, makin ke atas jalannya makin bagus. Mungkin karena arus kendaraan yang melintas tidak terlalu padat.

Memasuki Ciwidey pemandangan khas makin tampak. Banyaknya kebun-kebun strawberry, rumah makan dan hotel-hotel kecil dan penginapan. Juga persawahan yang menghijau.

Jalanan semakin bagus selepas Ciwidey. Jalan yang mulus, berkelok dan bersih. Sementara di kiri kanan jalan adalah tebing-tebing dengan pohon-pohon yang rindang. Kondisi jalan menanjak seperti di daerah puncak Bogor. Tapi disini suasana lebih nyaman karena lalu lintas sedang kosong. Berkendara pun jadi lebih leluasa. Tentu saja udara di sekitar sudah mulai dingin.

Setelah perjalanan yang nyaman dan pemandangan yang indah, sedikit lagi akan sampai di Kawasan Kawah Putih. Kalau dari arah Ciwidey lokasinya berada di sebelah kiri jalan. Hampir saja saya terlewat karena keenakan mengendara dan menikmati suasana. Ada semacam tembok atau batu bertuliskan Wisata Kawah Putih. Saya pun segera belokkan mobil ke arah pintu gerbang.

Di loket sudah sudah siap petugas yang memberikan informasi. Tertera harga tiket untuk pengunjung Rp 15.000 / orang, sementara untuk kendaraan mobil Rp 150.000. Berarti kalau saya masuk dengan mobil dan 2 orang pengunjung kena Rp 180.000. Lumayan mahal juga. Lalu saya bertanya alternatifnya kalau ingin naik ke atas tapi tidak membawa mobil. Ternyata disana sudah disediakan angkutan untuk naik ke atas dengan tarif Rp 10.000 pp / orang. Namanya ontang-anting. Tidak tahu arti dari nama itu, mungkin dikarenakan penumpangnya akan terpontal-pontal kalau naik angkutan ini. Mobilnya berjenis minibus seperti angkot yang telah dimodifikasi tempat duduknya. Kapasitasnya hampir sama dengan angkot pada umumnya.

Di depan loket juga disediakan tempat untuk memutar bagi yang tidak jadi menggunakan mobil ke atas. Saya pun memutar balik mobil setelah memutuskan hanya membeli tiket masuk untuk orang dan menggunakan ontang-anting untuk ke atas. Salah satu pertimbangan adalah menurut informasi dari petugasnya untuk menuju ke atas jalanan menanjak terjal dan jalanan sempit dengan jarak sekitar 5km. Disamping juga karena lebih ekonomis menggunakan ontang-anting sambil menikmati pemandangan saat perjalanan ke atas. Di tempat parkir ternyata sudah banyak orang yang memarkirkan mobilnya dan memilih menggunakan ontang-anting ke atas. Juga beberapa bis pariwisata yang sepertinya berasal dari luar Bandung.

Saya membeli tiket dan langsung masuk ke angkutan ontang-anting sambil nunggu mobilnya penuh. Ternyata bukan hanya angkot saja ya, angkutan di kawasan wisata ini juga seperti itu. Yaitu dengan cara ngetem atau ditunggu sampai penuh. Atau memang pengendaranya memang berasal dari sopir angkot?

Setelah penumpang penuh, mobil meraung-raung mulai berangkat ke atas. Knalpot ala mobil racing memekakkan telinga, tapi seru juga menambah suasana. Beberapa penumpang terlihat memakai baju hangat dan masker. Awalnya sempat bertanya-tanya kenapa pakai masker, apakah untuk menambah hangat atau apa. Tapi ternyata nanti pas sampai di atas, saya jadi tahu gunanya memakai masker.

Perjalanan ke atas, semakin lama semakin menanjak. Jalanan sempit dengan aspal yang kadang-kadang rata dan tidak rata, bahkan berlubang. Dan tentu saja mulai dari bawah tadi mobil semakin digeber agar kuat nanjak dengan knalpot yang benar-benar seperti suara balapan mobil. Penumpang pun terpontal-pontal saat ketemu jalan yang tidak rata. Untuk berpapasan sesama mobil, karena jalanan yang sempit, membuat masing-masing pengemudi harus mengurangi kecepatan dan berbagi jalan agar bisa berpapasan. Mungkin karena sesama ontang-anting jadinya mulus dalam berpapasan. Saat berpapasan dengan mobil pribadi baru terasa bedanya. Salah satu kendaraan harus mengalah turun dari jalan agar bisa papasan. Tentu saja ini akan menyulitkan untuk mengendara sendiri dengan mobil sendiri ke atas. Jalanan menanjak, sempit, ada sebagian yang rusak, belum lagi kondisi mobil tidak sehat atau tenaganya memang tidak mencukupi untuk dipakai pada tanjakan-tanjakan ini, tentu akan semakin was-was. Terbukti ada beberapa mobil yang terlihat mogok dan bermasalah saat menanjak. Maka saya pikir saya sudah memilih yang tepat dengan mamarkirkan mobil di parkiran dan naik ontang-anting. Disamping juga lebih ekonomis.

Icon Kawah Putih

Perjalanan sepanjang 5 km dari loket masuk di bawah selesai sudah. Sekarang kita sudah sampai di parkiran kawasan Kawah Putih. Parkiran sangat bersih dan rapi dengan batu conblok sebagai lantainya. Agak ke depan ada semacam tembok dengan tulisan Kawah Putih dengan bahan stainless steel yang menjadi icon tempat ini dan tempat favorit untuk befoto. Saat berada di situ terlihat pengunjung tidak henti nya berfoto di icon tersebut. Fasilitas umum disini seperti toilet juga lumayan bersih dengan air sumber yang dingin dan bening.

Jalan berundak dan diberi pemisah antara yang naik dan yang turun

Tidak jauh dari situ adalah akses menuju ke pusat kawah. Jalan menuju pusat kawah juga cukup bagus. Dibuat berundak agar memudahkan pengunjung untuk naik turun ke arah kawah. Bagus juga ada pemisah jalan antara pengunjung yang turun dan yang naik. Dari sini sudah mulai terlihat indahnya kawah putih. Yaitu semacam danau dengan air yang berwarna putih dan agak kebiruan (biru muda) dengan pasir yang juga berwarna putih. Mulai lah kami menikmati pemandangan di beberapa sudut. Dan tentu saja tidak lupa untuk foto-foto sebagai dokumentasi yang kapan-kapan bisa dilihat lagi keindahannya.

Dari mulai tempat parkir, jalanan turunan ke arah kawah, hingga di pusat kawah banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Kebanyakan menawarkan masker, buah strawberry, foto instan dan bubuk belerang. Tentu saja semunya saya tidak tertarik untuk membeli kecuali membeli masker. Itulah kenapa saya akhirnya tahu kenapa tadi saat di bawah sudah banyak orang yang menggunakan masker. Mungkin mereka bukan pengunjung baru, tapi pengunjun yang sudah berkali-kali kesini sehingga sudah mempersiapkan diri dengan baju hangat dan masker. Semakin mendekat ke pusat kawah hampir semua orang memakai masker. Bau uap belerang yang tajam dan menyengat memang membuat kurang nyaman. Karena itu lah pengelola melalui pengeras suara yang ada di sekitar lokasi selalu memberi peringatan agar menjaga diri jika kurang sehat, atau segera naik ke atas jika kepala mulai pusing.

Ada kejadian menarik saat membeli masker. Pas baru turun dari ontang-anting, di parkiran ada pedagang yang menawarkan masker sepasang ditawarkan Rp 5.000. Saya belum tertarik membeli, walau sudah merasa harus memakai masker saat di dekat kawah. Tapi saat sampai di dekat tangga yang menuruni kawah ada yang lagi yang menawarkan masker. Yang unik dia menawarkan dengan harga Rp 3.000 sepasang. Langsung saya beli saja tanpa menawar harga lagi. Herannya hanya berjarak beberapa meter saja harga sudah berubah drastis. Jadilah saya memakai masker itu saat menuruni jalak berundak menuju pusat kawah.

Ujung tangga turun ke kawah
Foto-foto agak ke tengah kawah
Air berwarna biru, pasir putih, pohon-pohon hijau

Pemandangan di pusat kawah memang sedap dipandang. Airnya yang berwarna putih kebiruan, pasir-pasir yang berwarna terang serta di sekeliling kawah yang dikelilingi oleh bukit dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Di sela-sela pohon tadi kadang-kadang muncul kabut yang makin membuat indah pemandangan. Saya beruntung karena saat berada di pusat kawah, cuaca sangat bersahabat, cerah dengan angin semilir. Kadang-kadang cuaca berubah cepat menjadi berawan dan turun hujan rintik.

Setelah puas menikmati pemandangan di pusat kawah dari sekitar jam 10-an pagi kami naik ke atas dan menuju turun ke tempat parkir di bawah dengan menggunakan ontang-anting lagi. Tidak lupa foto-foto suasana sebelum turun. Semakin siang, semakin banyak berdatangan pengunjung. Tidak seperti saat tadi datang, parkiran belum terlalu ramai, orang-orang pun juga tidak terlalau ramai. Tidak seperti sekarang yang makin ramai. Apalagi bercampurnya orang yang baru datang dan orang yang hendak kembali turun ke bawah. Icon Kawah Putih di dekat parkiran semakin ramai dan bergantian orang untuk berfoto di tempat ini.

Kami pun turun dengan ontang-anting. Arah ke bawah yang menurun terasa lebih nyaman ketimbang saat naik. Mobil pun tidak terlalu meraung-raung. Tentu saja sambil menikmati lagi pemandangan yang hijau dan pepohonan di sepanjang perjalanan.

Sesampainya di parkiran bawah kami segera kembali ke Kota Bandung. Masih melewati rute yang sama dengan saat berangkat. Tapi suasana arah pulang ini lebih nyaman, karena jalan yang lebih banyak turunan dan yang kendaraan yang tidak terlalu ramai. Sambil di jalan sambil memilih tempat makan di sepanjang jalan ini yang sudah kita perhatikan sejak naik ke atas. Akhirnya ketemu tempat makan yang sudah bisa kita lihat dari kejauhan. Dan kita mampir ke situ untuk makan siang. Ingin mencoba makan dengan suasana Ciwidey mumpung masih di daerah sini.

Makanan penggugah selera
Disini tempatnya

Nama tempatnya Rumah Makan Saung Asri, Jl. Raya Ciwidey KM 27. Kami memilih tempat lesehan yang di saung. Biar sambil makan, sambil menikmati udara segar dan pemandangan yang bagus di kiri kanannya. Tentu saja sambil melepas lelah untuk perjalanan kembali ke kota Bandung. Makanannya enak, khas sunda dengan harga yang murah untuk ukuran rumah makan dan makanannya yang banyak. Kami berdua makan nasi timbel, ayam, ikan, sayur asem, es jeruk dan es the manis total tidak sampai Rp 50.000,-

Lalu lanjut perjalanan pulang ke arah kota Bandung. Sekitar hampir 2 jam sudah sampai lagi di daerah Kopo. Jalanan macet. Tadi berangkat kena macet disini dan sampai sini lagi makin macet. Setelah kemacetan tertembus kami mengarah ke Jl. Ciumbuleuit tempat dimana akan menginap malam nanti.
logoblog

1 comment:

  1. Terima kasih telah memberikan informasi Objek wisata, karena indonesia sangat kaya sekali tempat wisata di jabodetabek dan salah satu yang paling menarik adalah tempat wisata di bali dengan berbagai macam kuliner yang lezat dan enak. Salam kenal ya bro.
    http://ariinfowisata.blogspot.co.id

    ReplyDelete