18 March 2015

Berburu Buku Menarik di Gudang Buku

Menemukan buku yang kita suka dengan harga yang murah adalah hal menyenangkan. Itu yang saya alami saat mampir ke toko Gudang Buku di Mal Bekasi Square. Walau namanya gudang buku tapi tampak rapi seperti toko pada umumnya. Bahkan dilengkapi dengan bangku untuk membaca-baca sebelum membeli.

Bukan hanya harga yang murah, kalau beruntung kita bisa mendapatkan buku yang kita suka yang sudah tidak beredar di toko buku besar, yang masih dalam kondisi bagus. Bahkan ada yang masih tersegel plastik. Dan yang unik, jika kita sudah menemukan buku yang kita suka dan saat itu kita tidak membelinya, saat kembali lagi buku itu sudah dibeli orang lain. Ini membuat jadi ingin mampir lagi, siapa tahu mendapatkan buku yang kita suka dan bisa langsung membelinya.

(gambar: sebagian hasil perburuan)

Saat pertama mampir saya mendapatka buku Si Muka Jelek. Catatan Seorang Copywriter 2 (2010) yg ditulis oleh Budiman Hakim, seorang copywriter senior dan pemilik biro iklan besar. Dan buku Khotbah di atas Bukit (2008) yang ditulis oleh Kuntowijoyo, seorang sastrawan yang mendapatkan banyak penghargaan di bidang sastra. Dua buku itu hanya saya tebus di bawah Rp 50 ribu. Padahal kondisi buku masih seperti baru dan bahkan yg satu lagi msh tersegel plastik.

Datang berikutnya saya mendapatkan 2 buku yang menarik. Buku Life Story not Job Title (2012) yang ditulis Darwin Silalahi, Predir PT Shell Indonesia. Satunya lagi buku terjemahan The Celestine Propechy (1997) tulisan James Redfield. Keduanya cukup dibayar Rp 50.000.

Ada beberapa buku lain dan majalah yang saya beli pada saat mampir lagi. Tapi yang paling menarik adalah saat mendapatkan buku yang lumayan tebal. Yaitu terjemahan novel best seller dunia The Name of The Rose (2004) karya Umberto Eco, dengan tebal 730 halaman. Dan buku Aimuna dan Sobori (sebuah novel tentang pemusnahan pohon cengkeh), terbitan 2013 karya Hanna Ranbe yang tebalnya 480 halaman. Seperti biasa kedua buku itu saya bayar Rp 60.000.

Begitulah kalau mampir ke Gudang Buku, terus ada buku yg menarik saya selalu membelinya. Biar nanti tidak dibeli oleh orang lain kalau saya tunda. Seperti pernah kejadian saat ada buku bagus tapi belum dibeli, saat datang kembali mau beli ternyata sudah diambil oleh orang lain.

Tidak jarang, istri berkomentar kalau saya selalu beli buku saat mampir ke sini. Untuk menyiasatinya saya biasanya hanya membeli maksimal 3 buku kalau ada yang menarik. Itu pun dipilih yang paling menarik yang mau dibeli. Akibatnya ada beberapa buku yang saya pending belinya. Semoga saat saya mau ambil belum dibeli orang. Buku-buku tadi adalah buku biografi Soebronto Laras (pendiri Indomobil) dan biografi Soekarjo (salah satu pendiri Jaya Ancol).

Suatu ketika saat membayar buku yang saya beli di kasir, saya bertanya dengan seorang pria berkacamata dan berjanggut tentang kapan biasanya stok buku datang ke toko ini. "Tidak mesti pak. Kalau lagi banyak ya tiap hari ada buku datang. Atau kalau lagi jarang ya seminggu paling 3 kali" jawab si bapak. Sepertinya si bapak ini pengelola atau pemiliknya. Saya belum konfirmasi langsung.

Maksud saya bertanya begitu adalah untuk menyesuaikan waktu kalau mau kesana. Biar saat datang ke sana, pas tidak lama stok buku-buku itu datang. Jadi bisa tahu lebih dulu kalau ada buku yang menarik di beli.

Tambahan info, Gudang Buku terletak di Mal Bekasi Square, Bekasi Barat di lantai bawah bersebelahan dengan Breadtalk. Jadi tidak sulit untuk menemukan buku ini kalau kita masuk dari pintu utama. Selain di Bekasi, Gudang Buku juga ada di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta. Tapi yang di Kuningan ini tokonya lebih kecil ketimbang yang di Bekasi. Walau pun dulu, seingat saya sekitar 10 tahun lalu, Gudang Buku yang di Pasar Festival ini kiosnya besar dan terletak di depan yang bisa kita lihat dari Jl. HR Rasuna Said.

Mau mampir ke sini? Siapa tahu ada buku yang disuka yang sudah tidak ada di pasaran masih bisa ketemu di sini.

3 comments: