23 March 2015

#EF11 – The Funny Moment with My Tshirt

I am not a fashionable person. I just a kind of person who prefer the simple and casual thing in fashion. Except in formal situation, I usually follow the rules. For example in the workplace, in a wedding party or other formal moment, beside using formal shirt or uniform, I usually put on batik as my favorite choice. And in daily non formal activities I just comfort with a jeans and t-shirt. And I also just have one rule, the size must be fit to my body, not to tight or to loose-fitting.

Because of that, I don't have special things to tell or about OOTD (outfit of the day). But, I still want to share about my funny thing when I wear my t-shirt with the provoking sentence. You can see that in these picture.

When I go to a mall, in a food corner where I just want to enjoy a cup of coffee and the live music, someone starred at me with a serious face. But after see exactly my t-shirt, he smile at me. I ask him politely, why he starred me like that. He told me that he think I really hate jazz music, so I express it in my t-shirt print. But when he read for the second time he realized that its just a joke.



It's not the first incident, several times the similar incident like this happen when I wear my black t-shirt and with the same ending. They just smile at me.

Actually I like wear this t-shirt not only because of the unique print on the shirt, but also the size is fit in my body. So it's look good and I feel comfort. This t-shirt I bought when I was go to Jazz Goes to Campus event in UI Depok several years ago. For me, it's unique and not common like the t-shirt that produced by Dagadu (Jogja), Krisna and Joger (Bali).

I also have one more interesting moment as above but it's with my other t-shirt. When I go to part shop to upgrade my laptop RAM, I got a good used RAM and good price just because i wear t-shirt that printed Ubuntu in it. When I ask why he gave good service, he told me that as an Ubuntu user (as printed in t-shirt I wear), I know the the quality of parts and the range of the price, so he give me the good price with no more offering. But actually I'm not like that, i just a casual user of Ubuntu, not a geek.


Maybe not only me, I think you have interesting experience like me, either. The funny experience just because of OOTD we wear. What do you think?

This is the submisson of the english challenge #EF11 – Outfit Of The Day
Read More »

18 March 2015

Berburu Buku Menarik di Gudang Buku

Menemukan buku yang kita suka dengan harga yang murah adalah hal menyenangkan. Itu yang saya alami saat mampir ke toko Gudang Buku di Mal Bekasi Square. Walau namanya gudang buku tapi tampak rapi seperti toko pada umumnya. Bahkan dilengkapi dengan bangku untuk membaca-baca sebelum membeli.

Bukan hanya harga yang murah, kalau beruntung kita bisa mendapatkan buku yang kita suka yang sudah tidak beredar di toko buku besar, yang masih dalam kondisi bagus. Bahkan ada yang masih tersegel plastik. Dan yang unik, jika kita sudah menemukan buku yang kita suka dan saat itu kita tidak membelinya, saat kembali lagi buku itu sudah dibeli orang lain. Ini membuat jadi ingin mampir lagi, siapa tahu mendapatkan buku yang kita suka dan bisa langsung membelinya.

(gambar: sebagian hasil perburuan)

Saat pertama mampir saya mendapatka buku Si Muka Jelek. Catatan Seorang Copywriter 2 (2010) yg ditulis oleh Budiman Hakim, seorang copywriter senior dan pemilik biro iklan besar. Dan buku Khotbah di atas Bukit (2008) yang ditulis oleh Kuntowijoyo, seorang sastrawan yang mendapatkan banyak penghargaan di bidang sastra. Dua buku itu hanya saya tebus di bawah Rp 50 ribu. Padahal kondisi buku masih seperti baru dan bahkan yg satu lagi msh tersegel plastik.

Datang berikutnya saya mendapatkan 2 buku yang menarik. Buku Life Story not Job Title (2012) yang ditulis Darwin Silalahi, Predir PT Shell Indonesia. Satunya lagi buku terjemahan The Celestine Propechy (1997) tulisan James Redfield. Keduanya cukup dibayar Rp 50.000.

Ada beberapa buku lain dan majalah yang saya beli pada saat mampir lagi. Tapi yang paling menarik adalah saat mendapatkan buku yang lumayan tebal. Yaitu terjemahan novel best seller dunia The Name of The Rose (2004) karya Umberto Eco, dengan tebal 730 halaman. Dan buku Aimuna dan Sobori (sebuah novel tentang pemusnahan pohon cengkeh), terbitan 2013 karya Hanna Ranbe yang tebalnya 480 halaman. Seperti biasa kedua buku itu saya bayar Rp 60.000.

Begitulah kalau mampir ke Gudang Buku, terus ada buku yg menarik saya selalu membelinya. Biar nanti tidak dibeli oleh orang lain kalau saya tunda. Seperti pernah kejadian saat ada buku bagus tapi belum dibeli, saat datang kembali mau beli ternyata sudah diambil oleh orang lain.

Tidak jarang, istri berkomentar kalau saya selalu beli buku saat mampir ke sini. Untuk menyiasatinya saya biasanya hanya membeli maksimal 3 buku kalau ada yang menarik. Itu pun dipilih yang paling menarik yang mau dibeli. Akibatnya ada beberapa buku yang saya pending belinya. Semoga saat saya mau ambil belum dibeli orang. Buku-buku tadi adalah buku biografi Soebronto Laras (pendiri Indomobil) dan biografi Soekarjo (salah satu pendiri Jaya Ancol).

Suatu ketika saat membayar buku yang saya beli di kasir, saya bertanya dengan seorang pria berkacamata dan berjanggut tentang kapan biasanya stok buku datang ke toko ini. "Tidak mesti pak. Kalau lagi banyak ya tiap hari ada buku datang. Atau kalau lagi jarang ya seminggu paling 3 kali" jawab si bapak. Sepertinya si bapak ini pengelola atau pemiliknya. Saya belum konfirmasi langsung.

Maksud saya bertanya begitu adalah untuk menyesuaikan waktu kalau mau kesana. Biar saat datang ke sana, pas tidak lama stok buku-buku itu datang. Jadi bisa tahu lebih dulu kalau ada buku yang menarik di beli.

Tambahan info, Gudang Buku terletak di Mal Bekasi Square, Bekasi Barat di lantai bawah bersebelahan dengan Breadtalk. Jadi tidak sulit untuk menemukan buku ini kalau kita masuk dari pintu utama. Selain di Bekasi, Gudang Buku juga ada di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta. Tapi yang di Kuningan ini tokonya lebih kecil ketimbang yang di Bekasi. Walau pun dulu, seingat saya sekitar 10 tahun lalu, Gudang Buku yang di Pasar Festival ini kiosnya besar dan terletak di depan yang bisa kita lihat dari Jl. HR Rasuna Said.

Mau mampir ke sini? Siapa tahu ada buku yang disuka yang sudah tidak ada di pasaran masih bisa ketemu di sini.
Read More »