18 January 2015

Masih Soal Air Terjun Tancak

January 18, 2015
Melanjutkan posting sebelumnya yang kelewat panjang, ini masih ada beberapa yang perlu jadi perhatian sebelum berkunjung ke sana.

Buat saya pribadi, berwisata ke air terjun Tancak bukanlah wisata biasa. Tapi sudah termasuk wisata menantang dan sudah semi adventure. Sepertinya ini tidak cocok untuk wisata bersama keluarga, seperti misalnya ke pantai dst. Wisata ini cocok untuk penggemar trekking, hiking, atau penggemar wisata dengan medan berat.
Papan peringatan yang terpasang di depan pabrik gunung pasang (foto: pribadi)

Namun kalau mau berencana ke sana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Fisik yang kuat
    Menurut papan yang ada sebelum naik ke air terjun, tertulis jarak dari parkiran ke air terjun 2,5 km. Sepertinya jarak yang tidak terlalu jauh untuk jalan kaki. Tapi ternyata setelah dijalani, sepertinya jaraknya lebih dari itu. Ditambah lagi jalanan yang berbatu dan menanjak dan ada bagian tertentu yang sulit dilalui. Tentu ini butuh fisik yang kuat. Waktu saya tanya ke penjaga parkir berapa lama perjalanan jalan kaki ke air terjun, dia menjawab 1,5 jam paling cepat. Tentu saja buat yang jalannya santai bisa 2 jam baru sampai.

  2. Berangkat lebih pagi
    Disamping agar bisa menikmati segarnya udara pagi di pegunungan, juga untuk menghindari teriknya matahari yang bisa menghambat perjalanan. Walau di pegunungan tapi pas di tempat terbuka sinar matahari lumayan menyengat. Di samping itu jg biar ada waktu yang lebih leluasa jika ada halangan di perjalanan, tersesat misalnya. Saya mengalami tersesat soalnya, tersesat waktu perjalanan dan saat jalan kaki menuju air terjun.

  3. Gunakan alas kaki yang nyaman (tapak rata)
    Di medan yang berat tentu diperlukan alas kaki yang nyaman untuk berjalan dan tidak membuat kaki lecet. Saya sempat lihat ada perempuan yang kesana memakai sandal cantik. Saya yakin kalau tetap dipakai sampai setengah perjalanan dijamin sandal cantiknya akan rusak. Saya sendiri kemarin menggunakan sandal jepit.

  4. Bawa perbekalan yang cukup
    Bawa makanan dan minuman dalam jumlah yang cukup. Selain karena di atas tidak ada yang berjualan, juga untuk menunjang agar perjalanan tetap bertenaga. Terutama air minum sangat diperlukan agar kita tidak dehidrasi. Walau saat saya naik ke atas masih belum terlalu panas, tapi setengah perjalanan sudah membuat keringat bercucuran. Tentu tubuh perlu air untuk mengimbanginya.

    Ada kejadian unik saat perjalanan ke atas. Perbekalan saya bawa dengan menggunakan kantong kresek, yang mana terlihat ada beberapa makanan kecil dan 2 botol air minum ukuran 600ml. Lalu ada pasangan anak muda mendekat ke saya dan mau membeli minuman yang saya bawa. Ini lantaran teman perempuannya yang sudah lemas dan terlihat mukanya merah pertanda kelelahan dan kehausan. Sementara mereka tidak membawa perbekalan.

    Sebenarnya air minum 2 botol ini pas-pasan buat kami berdua, tapi karena kasihan saya perbolehkan untuk membelinya. Mestinya saya berikan gratis kali ya.

  5. Gunakan gps, berguna sebagai penunjuk jalan kalau tersesat.
    Mungkin di pegunungan yang membuat sinyal gsm tidak kuat, bahkan tidak ada, maka untuk pengguna telpon pintar yang ada fasilitas gps tentu kurang berfungsi baik. Tapi untuk gps yang tidak memerlukan koneksi data harusnya tidak masalah. Atau kalau tersesat dan ragu-ragu, lebih baik jalan kembali lagi ke posisi semula.

  6. Jangan sungkan bertanya kepada penduduk setempat.
    Di gunung Pasang ini banyak pekerja perkebunan yang bisa kita tanya jika tersesat. Tapi pengalaman saya kemarin, tersesat sampai lumayan jauh (hampir 20 menit perjalanan) tetapi tidak bertemu seseorang yang ditanya. Akhirnya saya kembali lagi.

  7. Jaga lingkungan dan jangan buang sampah sembarangan.
    Saya melihat masih banyak orang yang melakukan corat coret dan membuang sampah sembarangan sehingga membuat kurang enak pemandangan. Bahkan kalau dibiarkan tentu saja akan merusak lingkungan. Saya jadi ingat pesan orang-orang pecinta alam sejati, yaitu jangan meninggalkan jejak di tempat yg kamu kunjungi,kecuali foto-foto dan kenangan yang indah.

logoblog

10 comments:

  1. tips yang pastinya akan berguna banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tips yang ditulisa karena pengalaman pahit penulisnya.. hehehe...

      Delete
  2. peluang bisnis tuh, om
    buka jasa gaet dan portir buat pengunjung
    sapa tau ada yang cakep ikut kegaet :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. gaet ya? bukan guide. kalau jasa gaet kayaknya bakal ada yang dikemplang sama nyonyah... :D sebenarnya peluang bisnis yang ok tuh penitipan sepatu/sendal cantik sekalian penyewaan sendal jepit untuk naik ke atas... nanti deh peluangnya dipikirin kalau dah balik kampung, soalnya sekarang lagi mengembara di luar kampung :-)

      Delete
  3. Replies
    1. jjauh bingit kakak kalau dari bogor mah..

      Delete
  4. nah, tentang alas kaki itu suka bikin saya terheran-heran. Saya juga suka lihat pengunjung (terutama perempuan) yang masih pake selop ketika mengunjungi air terjun. Kalau akses ke sanamya bagus sih gak apa-apa. Tapi kalau jelek, itu sama aja dengan menyiksa kaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. disamping ga sayang kaki, itu jg ga sayang sandal cantiknya. beli mahal2 malah pada rusak kalau lewati jalan dengan medan berat spt ini :-)

      Delete
  5. kalau ke lapangan atau alam bebas, biasanya yang suka di sepelekan itu alas kaki... padahal itu sama pentingnya dengan pakaian di badan kita... nice share mas... lanjutkan share trip-nya mas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi kadang2 kalau ga pakai alas kaki jg enak lho mas. apalagi kalau dah nyampe curug/cuban/air terjun, byurr nyebur tanpa alas kaki.. :-)

      Delete