27 July 2013

Jeruk yang Benar-benar 'huasyem'

July 27, 2013
Saat mengunjungi rumah yang belum saya tempati, di jalanan ada lapak dadakan. Ia jualan jeruk Medan (mungkin tidak tepat benar, tapi sejenis yang sering disebut sebagai jeruk Medan. Biasanya dengan ciri khas rasanya manis dan ada asam nya). Tulisannya sungguh menarik. “Obral Rp 8.000”.

Saya tidak langsung mampir, dan sambil berfikir, wah murah juga jeruknya. Apalagi dengan kata-kata obral, apalagi juga ini lapak dadakan. Mungkin ini juragan jeruk yang harus segera menghabiskan stok nya. Begitu pikir saya. Akhirnya pas perjalanan pulang dan melewati tempat itu, saya mampir.

“Bang, ini bener Rp 8.000, sekilo”, tanya saya ke abang penjual.
Dengan enteng nya si abang menjawab, “Yang Rp 8.000 yang ini”, katanya sambil menunjuk ke tumpukan jeruk. Tumpukannya tidak banyak, mungkin cuma beberapa kilo saja. Jeruknya pun tampak tidak menarik, terlihat sudah agak layu, beberapa ada yang sudah benjut.
“Kalau yang ini Rp 16.000 pak, sebelahnya Rp 18.000. dan yang gede-gede itu Rp 20.000” begitu katanya sambil menunjuk dagangannya.

Sepertinya dagangan dia yang terbanyak ya yang seharga Rp 16.000 – Rp 20.000 itu. Yang Rp 8.000 dengan tulisan mencolok itu cuma sedikit. Dan sengaja diletakkan tepat dibawah karton bertuliskan obral itu. “Huasyem...” kata saya mengumpat dalam hati.

“Gimana pak, mau ambil berapa kilo yang ini?” si abang sudah pakai jurus pamungkas untuk closing pembelian dengan membuka kantong plastik dan mulai menimbang. Saya diam saja tidak menjawab. Lalu dengan agak kesal saya bilang, “OK nanti dulu, saya mau tanya istri saya dulu yang nunggu di mobil” dan meninggalkan si abang. Saya pun masuk mobil dan tancap gas melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Saya sengaja tidak membeli. Karena dengan membeli berarti saya sudah terjebak dengan gaya promosinya. Dengan harga yang sama, saya bisa mendapatkan jeruk yang mungkin saja kualitasnya lebih baik, di toko buah langganan. Plus pelayanan dan bercandaan yang akrab. Sudah gitu, kalau ada komplain dengan barang yang kita beli, dengan senang hati langganan saya mengganti dengan yang diinginkan. Sedangkan di lapak kagetan ini, saya tidak yakin. Wong mau menarik orang yang datang saja dengan trik harga promosi.

Gaya promosi semacam ini seringkali kita jumpai di jalanan dengan segala variasinya. Intinya mereka ingin menarik orang untuk datang dengan membuat tulisan 'obral dan harga yang miring'. Padahal kalau kita perhatikan tidak akan berbeda harganya dengan tempat yang biasa berjualan.

Cara seperti ini sepertinya ampuh untuk menarik orang berhenti dan melihat barang yang dijual. Tapi belum tentu ampuh untuk membuat terjadinya pembelian. Apalagi orang yang mengerti harga dan kualitas barang, dijamin tidak akan terkecoh untuk membeli. Atau, perasaan kesal, seperti yang saya rasakan yang membuat orang tidak jadi membeli. Walau butuh barang tersebut.

So, jeruk yang tadi benar-benar “huasyem” buat saya. Yang berhasil membuat saya ngedumel sepanjang perjalanan pulang.
Read More »
logoblog
logoblog
08 January 2013

Oleh-oleh Khas Jember

January 08, 2013
Mencari oleh-oleh khas suatu daerah itu gampang-gampang susah. Kalau kita berada di daerah wisata yang terkenal, atau di kota-kota besar, tentu akan mudah mencari oleh-oleh serta banyak pilihan. Tapi kalau di kota kecil, apalagi tidak terkenal akan lebih susah mencarinya dan tidak banyak pilihan.

Contohnya di kota Jember. Mungkin hanya satu oleh-oleh yang terkenal dan khas dari sini. Yaitu Suwar-suwir. Sejenis makanan yang dibuat dari bahan dasar tape. Makanannya berbentuk potongan kecil-kecil, dengan aneka rasa. Biasanya ada rasa coklat, sirsak dan juga rasa kombinasi.

Sewaktu awal-awal menetap di Jakarta, dan sering membawakan oleh-oleh dari kampung buat teman, saya bahkan tidak tahu Suwar-suwir. Di desa tempat saya tinggal pun juga tidak terlalu mengenal suwar-suwir. Mungkin hanya di kotanya di Jember yang orang banyak mengenalnya.
Read More »
logoblog
logoblog
02 January 2013

Kemana Tahun Baruan?

January 02, 2013
Kembang api tahun baru 2013 di depan rumah
(foto: pribadi)
Ada dua hal yang sering ditanyakan saat tahun baruan, kemana acara pergantian tahun baru dan apa harapan (resolusi) di tahun baru nanti.

Kalau anda ditanya kemana acara tahun baru? Mungkin jawabannya bisa beragam. Ada yang ke pantai, ke pegunungan, ke luar kota atau ke tujuan wisata lain. Tapi pas saya ditanya, saya akan selalu menjawab, di rumah saja. Mendengar jawaban saya tadi, biasanya pada heran dan bertanya lagi, kenapa di rumah saja? Kan enak jalan-jalan? Saya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan terakhir tadi.

Penyebab hanya di rumah saja saat tahun baruan ini, saya tidak tahu pasti kenapa. Mungkin ada hubungannya dengan pekerjaan saya dulu yang berada di tempat keramaian. Dulu pertama kerja, saya kerja di Jaya Ancol. Jadinya, tempat yang biasanya dikunjungi orang untuk berwisata, bagi kami yang bekerja disana adalah biasa saja. Bahkan momen seperti liburan sekolah, lebaran atau hari besar keagamaan dan tahun baru seperti ini, bagi sebagian besar orang jalan-jalan ke Ancol adalah berwisata dan bersenang-senang. Tapi bagi kami yang bekerja disana, adalah justru hari ekstra untuk bekerja.
Read More »
logoblog