11 November 2012

Karapan Sapi tanpa Kekerasan di Bangkalan

Pintu Gerbang Lapangan SKEP Bangkalan (foto: pribadi)
Saat menginap di rumah famili di Bangkalan, ada kabar kalau besok pagi akan ada karapan sapi tanpa kekerasan. Wah apa pula ini 'tanpa kekerasan'?

Ternyata selama ini karapan sapi selalu identik dengan kekerasan. Maksudnya segala upaya dilakukan agar sapi bisa berlari kencang, bahkan dengan kekerasan. Misalnya dengan memarut bagian pantat sapi, terus diberi benda yang lain yang bikin perih dan dengan pecut yang bisa menimbulkan luka sebelum sapi mulai diadu balap.

Pun si joki juga memukul saat balapan dengan pemukul yang sudah diberi benda tajam. Walhasil karena kesakitan sapi pun akan berlari sekencang2nya. Bahkan ada juga yang sampai mengoleskan benda yang bisa memerihkan mata sapi, sekali lagi agar sapi bisa berlari kencang saat balapan.

Karapan Tanpa Kekerasan (foto: pribadi)
Karena keprihatinan tentang kekerasan terhadap sapi karapan ini lah, Pemprov Jatim, Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh se-Madura mewacanakan agar diadakan karapan sapi tanpa kekerasan. Maka pada bulan Oktober 2012 ini adalah kali pertama diadakan karapan sapi tanpa kekerasan. Lokasinya di lapangan SKEP Bangkalan. Tidak sampai 1 km dari rumah tempat kami menginap di daerah Pejagan.

Dari malam, kesibukan sudah mulai tampak. Dari yang memasang spanduk, persiapan para pemilik sapi yang akan ikut lomba, sampai bunyi-bunyi musik tradisional yang esoknya akan ditampilkan. Saya pun tak sabar menunggu pagi, seperti apa semaraknya acara itu.

Jam 05.30 sambil jalan-jalan pagi, saya pergi ke lapangan SKEP, tempat nanti berlangsung karapan. Jam segini disini sudah terang benderang, hampir seperti jam 6.30 kalau di Jakarta. Kalau tidak ada acara, biasanya disana banyak orang-orang yang jalan-jalan pagi. Saya dan istri pun berniat jalan-jalan pagi juga, sambil melihat persiapan acara karapan. Mumpung suasana masih pagi, cuaca belum panas dan juga belum terlalu ramai.

Ternyata suasana lapangan SKEP sudah semarak. Sapi-sapi yang akan dipertandingkan sudah diajak pemanasan. Peralatan untuk karapan sudah mulai dipersiapkan. Dan yang paling semarak adalah kelompok musik tradisional yang mengiringi masing-masing kontingen sudah mulai berlatih dan beraksi di pagi hari ini. Padahal kegiatan sebenarnya baru dimulai sekitar 3-4 jam lagi dari sekarang.

Setelah puas melihat persiapan dan suasana keramaian di lapangan SKEP, kami pun pulang lagi. Rencananya nanti akan datang lagi menjelang acara dimulai.

Persiapan dan pemanasan (foto: pribadi)

Ini berdoa atau persiapan ya? (foto: pribadi)

Ini baru semangat, padahal baru latihan pagi (foto: pribadi)

Sekitar jam 10-an kami datang lagi. Suasana sudah semakin ramai. Tim yang ikut karapan beserta pemusik tradisional sudah lebih banyak dibanding pagi tadi. Tidak ketinggalan juga, para pelajar sudah bersiap dengan baju-baju tradional berwarna menyala juga sudah mulai berkumpul. Pelajar-pelajar ini nantinya akan menarikan tarian kolosal dalam prosesi pembukaan karapan sapi tanpa kekerasan. Rencananya nanti acara akan dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf dan Bupati Bangkalan.

Acara seremonial diawali dengan penampilan kelompok pemusik daerah dari Bangkalan. Mereka membawakan beberapa lagu daerah Madura. Beberapa lagu diantaranya pernah dengar saat masih kecil tapi tidak terlalu ingat semuanya.

Acara pun dilanjutkan dengan tarian kolosal dari pelajar-pelajar Bangkalan yang menggambarkan budaya Madura, budaya karapan, dan beralihnya budaya karapan yang disertai kekerasan dan bahkan bisa sampai terjadi carok akibat perselesihan gara-gara karapan, dengan karapan yang sportif dan tanpa kekerasan serta tidak ada carok lagi hanya gara-gara karapan.

Tarian kolosal ini lumayan bagus. Saya salut dengan pelajar-pelajar ini yang dengan semangat menarikan tarian kolosal, walau cuaca sangat terik.

Acara pun secara resmi dan simbolis dibuka oleh Wakil Gubernur dan Bupati Bangkalan, setelah sebelumnya masing-masing menyampaikan sambutan.

Yang menarik, sambutan baik dari Wakil Gubernur dan Bupati disampaikan secara santai dan bahkan dengan bercanda. Bahkan ada sedikit menyinggung dan menyebut nama calon Bupati Bangkalan. Ternyata, sebentar lagi di Bangkalan akan ada Pilkada yang salah satu calonnya adalah keluarga dari bupati Bangkalan saat ini. Dan event ini ternyata tak luput dari sedikit pesan promosi.

Yang juga menarik, saat sambutan berkali-kali disebut bahwa karapan sapi tanpa kekerasan ini, adalah karapan sapi se Ex Karesidenan Madura yang memperebutkan piala presiden. Tapi tidak disebut piala presiden mana atau bahkan tidak menyebut Presiden SBY misalnya. Berkali-kali hanya disebutkan piala presiden (aja).

Karapan pun akhirnya dimulai. Baru beberapa pasang sapi yang dilombakan, akhirnya kami pun pulang. Tidak kuat dengan panasnya Bangkalan di tengah lapangan, dan karena ada juga acara mau pergi ke tempat lain. Penonton pun tampak semakin banyak dan menikmati tontonan karapan sapi yang memang sangat terkenal dan menjadi icon Madura.

Toilet darurat. Kalau saya mending di bawah pohon (foto: pribadi)

Lihat pantat sapi yang hitam, bekas karapan dg kekerasan (foto: pribadi)

Persiapan dan pemanasan sebelum bertanding (foto: pribadi)

Satu paket, sapi, kru, musik tradisional pendukung (foto: pribadi)

Sapi yang montok (foto: pribadi)

Pendukung acara sedang bersiap (foto: pribadi)

Tarian (agak) kolosal (foto: pribadi)

Tarian kolosal penutup (foto: pribadi)

Pembukaan oleh Wagub Jatim dan Bupati Bangkalan (foto: pribadi)

Race Pertama dimulai (foto: pribadi)

Tulisan ini adalah rangkaian tulisan tentang liburan akhir Oktober 2012

7 comments:

  1. kasihan sapinya ya ..., dipaksa harus lari kencang
    yg tanpa kekerasan ini bgmana suruh sapinya lari ya

    seru ya , kalau melihat acara langsung di tkp, kita jadi ikut terbawa emosi he..he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang tanpa kekerasan, yang aku lihat kemarin, cuma pakai pecut biasa, yang tidak melukai. dan biar sapi 'ketakutan' dan lari dibagian belakang diberi serangkaian kaleng, plastik yang bisa menimbulkan bunyi dan membuat sapi gampang diajak lari. yang agak lucu lagi, sapi dihiasi dengan 'klaras' (daun pisang yg kering) agar bikin geli2 dan menimbulkan bunyi sehingga memicu sapi berlari kencang. O ya, klaras yg saya maksud bisa dilihat di foto di atas.

      ya nonton secara langsung emang pengalaman tersendiri. tapi ya itu, panasnya minta ampun. mungkin mencapai 38-40 derajat C. saya aja pas siangnya ga sampai 1 jam sudah ga tahan dan meninggalkan lapangan. untung saja paginya dah sempat hunting foto2 menarik :-)

      terima kasih komentarnya bu :-)

      Delete
  2. Baru sore tadi melihat liputannya di TV, sekarang aku melihat dari postingan langsung dari TKP. Semoga ini dapat di jadikan agenda tahunan sebagai daya tarik wisatawan ke daerah tersebut.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah liputannya di tv apa pak/bu? kalau saya kesana karena kebetulan saja emang sedang jalan2 ke madura. terus ada event menarik, tentu saja sayang dilewatkan. dan tau tidak, ini adalah kali pertama melihat karapan sapi se-Madura secara langsung :-)

      Delete
  3. Untunglah sekarang perikemanusiaan kita sudah muncul terhadap hewan..Kasihan ya sapi-sapit itu sudah diekploitasi eh harus disiksa pula..Semoga dengan peraturan baru, karapan sapi semakin meriah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bu, ngeri juga, walau untuk sebuah perlombaan dan mengatasnamakan tradisi, tapi disertai dengan kekerasan terhadap hewan, spt nya saya sendiri pun ga akan bisa menikmati menonton perlombaan tersebut. apalagi konon katanya sampai berdarah2.

      tentang karapan yang non kekerasan kemarin, ternyata masih ada pihak yang belum sepakat. akhirnya kemarin untuk piala presiden bergilir diadakan dua versi balapan. versi pertama yang non kekerasan dilaksanakan di bangkalan (yang saya tonton ini) dan versi dg kekerasan dilakukan di sampang. keduanya dilakukan pada hari yang sama.

      Delete
  4. kasian juga sapinya kl pk kekerasan.. untung skrg udah enggak ya..

    ReplyDelete