30 December 2010

Jember tidak punya Bupati

Saya senang membaca berita-berita lokal dari kampung saya, Jember. Apa saja yang menjadi berita akan saya ikuti. Maklumlah namanya kampung halaman, siapa pun akan senang kalau tahu perkembangannya.

Maka dicarilah informasi. Situs online, berita daerah atau apa pun. Ada yang membanggakan ada pula yang membuat prihatin dan bikin malu.

Salah satunya adalah yang terjadi belakangan ini. Bupati dan Wakil Bupati harus berurusan dengan pengadilan untuk perkara korupsi saat mereka belum menjabat Bupati dan Wakil. Untuk Pak Bupati, dari kabar yang ada memang sudah lama diberkas, tapi bertahun-tahun tidak kunjung disidangkan. Sedang Pak Wabub, kasusnya adalah belakangan itu saja. Kasus keduanya sudah disidangkan. Sudah ada putusan, tapi masih ada yang mempermasalahkan hingga berkekuatan hukum tetap.

Selama menghadapi proses itu, Bupati dan Wakilnya dinonaktifkan. Lantas ditunjuklah Pjs. Bupati. Ini juga menjadi kisah yang ramai. Dan saya tidak mengerti apakah secara ketatanegaraan hal ini sudah diatur. Yaitu jika Bupati berhalangan diganti Wakil Bupati, Sekwilda, dst. nya ke bawah. Atau bisa diambil jalan pintas menunjuk Pjs. untuk menjalankan pemerintahan yang selama ini kosong. Hal ini saya belum tahu dan mengerti.

Tapi sebagai rakyat tentu kita berharap roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan. Juga program pembangunan tidak boleh terhambat. Kabarnya akibat kasus Bupati dan Wabup di kalangan DPRD Jember penyusunan RAPBD dan tetek bengeknya jadi terhambat. (1) Duh.

Ini jadi pengalaman berharga. Pilihlah pemimpin dengan rasional. Lihat rekam jejaknya saat belum menjadi pimpinan. Saya yakin sekali di Jember banyak pemimpin yang mampu dan bersih untuk memimpin Jember. Ayo Jember kampung halamanku, kamu pasti bisa.

Bacaan lain:
(1) Pembangunan terancam mandeg
(2) Testimoni Bupati Djalal
Read More »

29 December 2010

Dual Boot

Salah satu alasan orang tidak mau mencoba linux adalah karena kekhawatiran merusak sistem yang ada (Windows), tidak punya waktu, tidak berani spekulasi, atau cuma pengguna awam saja. Padahal linux itu tidak se angker yang kita bayangkan.

Ini yang saya alami sendiri. Sejak mencoba ubuntu, salah satu varian distro linux, yang saat itu masih versi LTS 6.06. Ternyata setelah dicoba tidak sesulit yang kita bayangkan. Bahkan lama-lama bisa ketagihan. Saya sendiri cuma pengguna biasa komputer dan tidak berlatar belakang teknis. Salah satu satu jurus yang saya pilih adalah 'dual boot'. Yaitu memasang 2 OS pada satu komputer. Jadi kalau saya sedang ingin melakukan kerjaan kantor dimana umumnya mengggunakan OS Windows, maka saat saya nyalakan laptop saya memilih Windows. Demikian juga sebaliknya saat ingin melakukan keperluan pribadi dengan komputer yaitu memilih Ubuntu sebagai pilihan.

Untuk membuat dual boot tidak terlalu sulit. Cuma perlu beberapa langkah saja:
  1. Install Windows sampai selesai. Lalu buat beberapa partisi pada harddisk anda. Kalau saya membagi menjadi 4 partisi (windows, linux, data, swap). Untuk mem-partisi bisa menggunakan software apa saja (Partition Magic, Paragon, dst).
  2. Install linux. Pilih opsi manual saja untuk menentukan linux akan diinstall di partisi mana. Ikuti sampai selesai. Biasanya terakhir akan diproses dengan dibuatnya boot manager oleh linux. Ikuti aja sampai selesai.
  3. Saat restart setelah install linux, akan muncul pilihan mau boot ke mana, windows atau ubuntu. Nah menu ini dalam linux disebut GRUB (menu booting).


Nah, ternyata tidak susah kan untuk membuat dual boot di komputer/laptop kita? Dengan dualboot kita bisa tetap menikmati windows yang dari awal kita bisa, dan mencoba hal-hal baru seputar OS yang berlisensi bebas.

Menu boot untuk laptop saya saat ini adalah Windows 7 dan Ubuntu 10.04. Sebelumnya dual boot nya menggunakan Windows Xp dan Ubuntu 10.04
Read More »

28 December 2010

Kampung Daun

Kampung Daun adalah salah satu yang kami kunjungi saat ke Bandung kemarin. Sebenarnya tidak mau mau merencanakan. Tapi dari masih di rumah, nyonya selalu bilang 'nanti ke Kampung Daun ya..' Kami tidak mau merencanakan karena takut tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Misalnya tempatnya, dan segala macamnya la. Kami membiarkan saja nanti seperti apa saat dijalani saja.

Begitulah setelah sampai di Bandung kami mencari tempat menginap dulu. Setelah dapat baru dilanjutkan dengan sesi berikutnya, acara untuk ibu-ibu, yaitu safari FO. Kali ini yang kami tuju cuma FO yang berada di sepanjang Jl. Ir. H. Juanda (Dago). Dan setelah selesai belanja langsung menuju ke Kampung Daun.

Lihat catatan, cari alamatnya dan langsung jalan. Waktu itu sudah jam 8 malam. Langsung dicarilah jalan yang mengarah ke Lembang. Seperti biasa Jl. Setiabudhi pasti macet. Menikmati pelan-pelan kemacetan hingga terminal Ledeng. Dari situ belok kiri ke arah Jl. Sersan Bajuri (saya salut dengan jalan ini walau pakai nama pahlawan lokal yang berpangkat sersan, tapi jalur ini adalah jalur wisata yang ramai dan berkembang). Menurut alamatnya kira-kira berjarak 4,1 KM dari ujung Jl. Sersan Bajuri.

Menyusuri Jl. Sersan Bajuri yang makin jauh makin gelap. Jalanan juga menyempit. Walhasil mata harus tetap jeli membaca petunjuk jalan menuju lokasi. Sesekali melihat GPS untuk meyakinkan agar tidak tersesat.

3 km lagi... 2 km lagi... 1 km lagi... saya makin pelan mengendarai mobil. Takut terlewat tempatnya karena hari makin malam. Di depan ada tulisan Triniti Villa (atau semacam itu karena saya tidak melihat), saya lewat saja. Tapi tiba-tiba nyonya bilang sepertinya kita terlewat. Perasaan juga sama, seperti terasa kelewatan. Akhirnya memutar balik dan masuk ke dalam Villa Triniti. Dan ternyata benar, saya baru tahu ternyata Kampung Daun itu berada di kawasan Villa Triniti. Di gerbang dengan pagar besi, seperti komplek perumahaan elit, tertulis 'Kampung Daun 750 m lagi...'.

Ya sebentar lagi sampai tujuan. Terlihat di depan ada keramaian dan pos parkir (tepatnya tempat nongkrong tukang parkir). Tapi yang membingungkan kok di depan sana ada tulisan 'Rumah Doa'. Apa saya tidak salah lagi nih... Apalagi ternyata kerumunan yang saya lihat itu sepertinya baru bubaran dari Rumah Doa tadi. Akhirnya saya tanya ke tukang parkir yang sedang nongkrong di 'tempatnya' dimana Kampung Daun itu. Mereka menjawab ya benar disini. Parkir aja di depan ada yang kosong. Lalu saya turun dan menuju ke pintu gerbang. Sampai disini pun saya sebenarnya masih ragu. Karena saya tidak melihat penanda saya sudah masuk Kampung Daun. Karena di gerbangnya ada tulisan 'Selamat Natal 2010 dan Tahun Baru 2011'.

Setelah melihat-lihat sebentar terus saya melakukan reservasi. Walau jam sudah menunjukkan jam 10 malam ternyata pengantrinya masih cukup banyak. Rata-rata pengantri melakukan reservasi untuk 3 orang lebih. Hanya sedikit yang reservasi untuk 2 orang seperti saya. Saya mendapatkan antrian ke 8. Kata petugasnya kira-kira harus menunggu 20 - 30 menit. Waktu yang lumayan lama untuk menahan dingin dan lapar yang sudah terasa sejak mau berangkat ke Kampung Daun sini.

Tiba lah giliran kami menuju ke saung, pesan makan dan tentu menunggu. Sambil menunggu makanan yang agak lama menikmati gemericik air terjun yang khas. Melihat tebing bebatuan di samping saung dan tentu saja udara yang makin dingin. Tidak lama kemudian datang la makanan yang dipesan.

Secara umum makanannya lumayan enak. Cuma untuk sop yang harus dihidangkan panas, sampai ke saung sudah berkurang panasnya. Yang menang disini adalah suasananya.

Tips untuk ke sana:
  • Cari informasi tentang rute. Karena jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Apalagi kalau berkunjung waktu malam. Bisa terlewat dan tentu akan memakan waktu.
  • Bawa baju hangat terutama kalau berkunjung pada malam hari
  • Jangan terlalu lapar. Kasihan anda menunggu antrian, menunggu pesanan dan mungkin juga akan mengganggu untuk menikmati suasanya
Read More »

27 December 2010

Lenovo G450 4362



Sudah hampir setahun umur laptop ini. Menggantikan laptop lama yang pernah saya tuliskan di blog saya yang lama.

Kenapa saya harus ganti laptop? Sementara laptop yang lama masih bagus dan berfungsi dengan baik? (kecuali batrei Axioo yang sering kejadian cepet drop). Saya berfikir karena pengen menggunakan laptop disamping untuk pekerjaan kantor sehari-hari, juga untuk menyalurkan hobi kotak katik. Terutama untuk mencoba Ubuntu, distro Linux yang dari pertama coba sampai sekarang jadi makin tertarik untuk memakainya. Nah, dengan laptop yang lama, saya tidak bisa menikmati kemampuan efek desktop yang indah. Memang ada beberapa trik untuk bisa menjalankan desktop effect, tapi itu memakan waktu dan fikiran sehingga tidak bisa mencoba sisi lainnya dari Linux. Hanya habis untuk mencari tahu bagaimana bisa menjalankan efek pada graphic card yang bukan mainstream. Dan hingga saat ini pun belum ada support dari Via untuk pengembang linux. Walau pernah dikabarkan akan lebih 'friendly' untuk pemakai linux.

Akhirnya terfikirlah untuk membeli lagi laptop, yang tentu dengann spesifikasi yang lebih ramah linux. Karena itu setiap pilihan harus saya pertimbangan apakah hardware nya bermasalah dengan linux yang saya pakai atau tidak.

Kenapa Lenovo? Susah jawabnya. Tapi alasan utama saat membelinya adalah harga. Saya memang mencari laptop kelas 'value'. Terus di koran juga sedang gencarnya promo produk ini dengan harga khusus. Kalau tidak salah waktu itu ditawarkan dengan harga Rp. 4.500.000. Maka langsung dicarilah info seputar laptop ini dan linux. Khususnya ubuntu. Dari beberapa review umumnya tidak ada masalah dengan linux makanya saya langsung memutuskan untuk mengambil laptop ini.

Masalahnya adalah dari semua promosi itu menunjuk tokonya yang ada di Jakarta. Wah berarti harus ke Jakarta dong. Padahal saat itu kesibukan lebih banyak di Bekasi. Kerja di Kawasan Industri Cibitung dan tinggal di Bekasi Selatan. Tapi untunglah di Bekasi ada pusat komputer yang belum lama buka. Namanya Bekasi Cyber Park yang terletak di seberang Metropolitan Mall Bekasi.

Dari toko yang ada saya mencoba menanyakan merk dan jenis laptop. Dan bagusnya lagi stoknya ada. Harga pun masih sama persis dengan promosi di koran, tidak bisa ditawar. Tanpa pikir panjang saya putuskan saja untuk membeli. Nah saya baru tahu ternyata para dealer ini cukup 'patuh' kepada merk yang memberikan harga khusus atau diskon biar sesuai dengan yang dipromosikan. Jadi kalau pun menanyakan di toko sebelahnya harganya pasti tetap sama. Saya juga pernah mengecek merk lain dan ternyata harganya juga tidak bisa diotak atik karena itu harga promo.

Nantinya laptop ini saya akan pasangi (dual boot) Windows dan Ubuntu. Dan saat ini adalah sudah hampir setahun Lenovo ini saya gunakan untuk hobi dan bekerja.

Ini adalah spesifikas singkat:
Intel Core Duo T4300 (2.1GHz, 800MHz FSB, 1MB L2 Cache), 14.0" LED WXGA High Definition Glossy Widescreen Display, 1GB DDR3, 160GB SATA 5400rpm, DVD Recordable, Intel Graphics Media Accelerator X4500, Lenovo b/g, 10/100 LAN, BlueTooth, Camera, Veriface (Face Recognition Technology), 6 cell, DOS , Dove casing model, 1 Year Warranty Parts
Read More »

26 December 2010

Jalan-jalan ke Bandung



Sudah hampir setahun tidak ke Bandung. Kalau tidak salah, dulu ke Bandung adalah setelah tanggal merah natal. Kebetulan waktu yang senggang adalah saat itu, makanya saat antara natal dan tahun baru saya sempatkan untuk jalan-jalan ke Bandung dengan keluarga.

Ini kali ketiga. Maksudnya waktu bepergian ke Bandung dengan memilih waktu antara 25 Desember hingga akhir tahun. Tidak tahu kenapa kok seperti jadi terbiasa jalan-jalan ke Bandung dengan memilih waktu seperti ini. Bahkan sekali lagi, ini yang ketiga kalinya.

Ada cerita yang lucu saat pertama. Waktu itu tanpa direncanakan saya dan keluarga spontan saja pergi ke Bandung. Tidak ada persiapan mau menginap dimana atau bagaimana. Pokoknya jalan saja dan nanti cari hotel di tempat. Kalau beruntung mendapatkan hotel yang menginap, kalau tidak ya pulang lagi ke Bekasi.

Singkat cerita, pagi-pagi berangkat dan tiba di Bandung dengan 1,5 jam perjalanan. Seperti umumnya orang-orang Jakarta yang ke Bandung, tempat yang utama diserbu adalah ke Factory Outlet. Setelah kaki pegal-pegal dan mengisi perut barulah terfikir untuk mencari hotel. Browsing dulu mencari nomor telepon hotel yang ada di Bandung menggunakan internet di handphone. Telephone ke semua hotel yang ada di daftar, dan semua jawaban adalah "tidak ada kamar kosong".

Masih belum puas dengan menelepon dilanjutkan dengan datang langsung ke lokasi hotel yang ada di seputaran Pasir Kaliki, Cihampelas, Cipaganti. Hasilnya tetap nihil. Ada sih sebenarnya kamar kosong, tapi tentu dengan harga selangit.

Waktu itu sempat mau menyerah. Apakah kita akan pulang saja, sementara hari sudah mulai sore. Akhirnya 'perjuangan' dilanjutkan dengan mencari hotel di daerah Lembang. Dengan harapan, semakin jauh dari pusat kota mestinya ada saja kamar yang kosong. Pencarian dimulai dari Jl. Setiabudi dan terus naik ke atas. Semakin naik ke atas, jalan semakin sepi akhirnya menemukan hotel dan bertanya apakah masih ada kamar kosong. Mengejutkan ternyata di tempat itu masih banyak kamar yang kosong. Akhirnya tanpa pertimbangan macam-macam kita memesan kamar. Namanya Hotel Lebak Gunung, Jl. Setiabudi.

Kondisi hotel tampak sepi yang parkir mobil ada 1-2 mobil saja. Tapi tidak lama kemudian banyak mobil berdatangan. Dan di pagi harinya ternyata parkiran mobil sudah penuh yang umumnya mobil-mobil dengan nomor polisi B (Jakarta).

Moral dari cerita di atas adalah kalau mau mencari hotel di Bandung, apalagi di saat peak season, carilah ke daerah pinggiran, makin ke pinggir makin bagus. Agar kemungkinan mendapatkan tempat menginap lebih besar.

Dari pengalaman 2 tahun lalu, sekarang kalau mau cari penginapan di saat musim libur, langsung menuju ke daerah pinggiran. Tahun ini pun begitu. Tapi kami memilih yang di pinggiran Dago. Di tempat ini, tempat yang sama adalah yang kedua kalinya.
Read More »

23 December 2010

Adakah Premium non Subsidi?

Kalau yang sekarang heboh dibicarakan, yaitu soal pembatasan subsidi BBM jadi diberlakukan Maret 2011 nanti, maka kendaraan pribadi (plat hitam) sudah tidak boleh pakai BBM premium. Sebagai gantinya adalah 'dipaksa' pakai Pertamax atau sejenis itu yang dipasarkan oleh SPBU non Pertamina.

Yang jadi pertanyaan adalah, apakah tidak ada pilihan lain ketimbang 'pemaksaan' tersebut?

Seperi kita tahu BBM di SPBU Pertamina yang beredar saat ini adalah Premium dengan oktan 88 (bersubsidi), Pertamax dengan oktan 92 dan Pertamax Plus dengan oktan 95. Dua yang terakhir adalah tidak di-subsidi, dan karena itu harganya selalu naik turun mengikuti harga pasar.

Nah nanti kalau kebijakan itu sudah diberlakukan, berarti pemilik mobil yang biasanya pakai Premium (oktan 88) akan langsung loncat ke Pertamax (oktan 92).

Di milis toyota-kijang yang saya ikuti ada ide yang cukup menarik perihal peralihan jenis BBM ini. Intinya kira-kira seperti ini yang bisa jadi alternatif:

  • Pertamina menyediakan BBM Premium dengan spek yang sama persis (oktan 88) tapi dengan harga yang tidak di-subsidi. Katakanlah Rp 5.000 - 6000 an. Yang ini tentu lebih murah ketimbang Pertamax
  • Pertamina membuat jenis BBM baru dengan oktan di-atas 88 tapi di bawah 92. Ini tentu harganya jadi lebih murah ketimbang Pertamax


Dasarnya adalah dari kebutuhan mobilnya itu sendiri. Masih menurut yang diutarakan salah satu sesepuh di milis tersebut adalah bahwa mobil-mobil seperti Yaris, Altis, Jazz RS, Avanza, Terios, APV bisa diisi BBM dengan oktan 88 tanpa problem kenapa musti diganti ke oktan 92? Kenapa tidak diadakan alternatif membuat BBM non subsidi dengan oktan di bawahnya?

Buat saya yang tidak mengerti otomotif, sepertinya itu ide yang masuk akal. Gimana menurut anda?
Read More »

22 December 2010

Ubuntu itu browser atau OS?

Kalau saya tanyakan ke Anda, Ubuntu itu OS atau browser? Tentu anda akan menjawabnya ia adalah sebuah OS, sejenis dengan Windows atau OS lainnya.

Lalu bagaimana kalau ada yang mengkategorikan Ubuntu itu sebagai browser? He he he. Mungkin ada yang silap mata. Saya tidak yakin Blogspot yang anaknya Google memang sengaja mengkatogerikan seperti itu.

Ini tangkapan di layar saat lihat dasbor Blogspot

Read More »

Jakarta yang Makin Macet aja


Membicarakan macet di Jakarta sebenarnya hal yang sudah basi. Karena hampir semua pihak membahasnya. Apalagi menjelang peralihan tidak dibolehkannya menggunakan BBM bersubsidi untuk kendaraan pribadi. Tapi, dari hari ke hari kemacetan bukannya berkurang, malah makin menjadi-jadi.

Saya tidak mengada ada. Tadi ada kerjaan ke daerah Melawai, Jaksel. Saya menempuh perjalanan dari Bekasi - Melawai memakan waktu 3 jam. Seminggu sebelumnya juga hampir sama, Bekasi - Jl. Dharmawangsa juga 3 jam. Berangkat dari rumah jam 7 pagi, sampai tempat tujuan jam 10 pagi. Dan memang rute yang saya lewati tergolong rute 'maut'. Alias biang kemacetan dari dulu. Rute saya tadi pagi dari Bekasi - masuk tol Bekasi Barat - keluar Cawang - Jl. MT Haryono, Jl. Kapt. Tendean dan lurus saja sampai Blok M.

Kalau saya bandingkan dengan 1-2 tahun lalu dengan rute yang sama, sepertinya tidak semacet sekarang. Dulu selambat-lambatnya 2 jam sudah sampai tujuan (Dulu kantor di daerah Warung Buncit). Kalau dihitung secara kasar, kemacetan sudah meningkat 1/3 nya.



Tadi juga sempat mencoba menyusuri jalan protokol, Jl. Jend. Sudirman mulai dari Blok M hingga bundaran HI. Sepanjang perjalanan sudah tersendat dari awal hingga akhir. Ditambah lagi pemandangan 'kurang indah' perbaikan lajur untuk busway dari Karet - Bundaran HI.

Kalau sudah begini, hidup di Jakarta sudah tidak nyaman lagi. Waktu habis di jalan, BBM juga habis ga karuan (apalagi sebentar lagi tidak disubsidi). Lalu, sebagai orang yang berkeliaran di Jakarta harus bagaimana? Apakah kita terima nasib saja? :-)
Read More »

21 December 2010

Meletakkan sampah?

Mungkin selama ini kita selalu mendengar kata "membuang sampah", "buanglah sampah pada tempat", dst. Pokoknya kalau berhubungan dengan sampah, selalu menggunakan kata kerja buang.

Apa salahnya jika diganti dengan kata "meletakkan", "letakkan". Iya betul juga. Kenapa? Di rubrik bahasa Harian Kompas, tgl. 17 Desember 2010 membahasnya. Lengkapnya bisa dibaca disini (anda perlu login), atau bisa disini (tanpa login).

Ringkasannya kira-kira begini, kata "buang" menurut KBBI berkonotasi negatif, sehingga wajar saja jika akan mengakibatkan perilaku yang negatif. Yaitu sembarangan dengan sampah (membuang sembarangan). Sedangkan kata "meletakkan" cenderung bersifat netral.

Karena itu mulailah ke depan dengan menggunakan kalimat "Buanglah Sampah pada Tempatnya" --eh salah-- maksudnya "Letakkanlah Sampah pada Tempatnya". Bagus kan? Paling tidak, tidak pasaran seperti slogan-slogan yang pernah ada. Silakan dicoba di lingkungan anda masing-masing.
Read More »

20 December 2010

Selamat jumpa

Ini posting saya yang pertama di blogspot. Semoga ke depan blog ini akan terisi dengan hal-hal yang menarik untuk dibaca. Paling tidak menarik untuk saya sendiri.

Salam jumpa
Read More »